Worship > Sunday Service > Sermon Archives > Air Hidup (1)

Worship

Air Hidup (1)

Pdt. Budy  Setiawan

Preacher: Pdt. Budy Setiawan
Date: Sunday, 23 April 2017

Bible reading: Yoh 4:15-26

Salah satu buku yang mempengaruhi dunia adalah the Institute of Christian Religion tulisan John Calvin. Pada bagian permulaan buku itu, Calvin menulis “There is no knowledge of God without the knowledge of self”, namun juga sebaliknya “There is no knowledge of self without knowledge of God”. Tanpa pengenalan akan Allah tidak ada pengenalan akan diri dan juga sebaliknya. Saya rasa kita bisa mengerti bahwa tanpa pengenalan akan Allah kita tidak mungkin mengenal akan diri kita sesungguhnya. Tetapi apa maksudnya kalau kita tidak mengenal diri, kita tidak mungkin mengenal Allah. Yang Calvin maksudkan di sini adalah pengenalan diri yang berdosa, yang sudah bangkrut, yang tidak lagi berkenan kepada Tuhan, yang binasa tanpa Tuhan. Pengenalan diri yang seperti demikianlah yang menjadi syarat bagi kita untuk mengenal Allah.

Kedua hal inilah yang kita lihat di dalam percakapan Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria. Kita melihat bahwa Tuhan Yesus membongkar apa yang terjadi di dalam hati perempuan ini. Ketika perempuan itu mengenal dirinya yang berdosa itu barulah dia bisa mengenal akan Kristus yang sesungguhnya. Pengenalan akan Kristus dan pengenalan akan diri adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Sebelumnya dalam Yoh 4:13-14 Yesus berkata “Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”. Ini adalah ajakan Tuhan supaya perempuan S;amaria itu boleh percaya kepada-Nya.

Tetapi dalam Yoh 4:15 perempuan itu menjawab “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” Kata “Tuhan” (Kyrios) di sini lebih tepat diterjemahkan sebagai “Sir” seperti di dalam NIV dan ESV. Jadi lebih mengacu kepada respect tetapi bukan kepada Tuhan. Dari jawaban perempuan ini menunjukkan bahwa dia tidak mengerti apa yang Yesus maksudkan sesungguhnya, dan dia tidak mengenal akan dirinya sendiri, apa yang sesungguhnya dia butuhkan.

Yesus mengatakan Aku akan memberikan air hidup sampai kekekalan, tetapi perempuan itu menangkapnya sebagai air yang diberikan kepadanya selama-lamanya, sehingga dia tidak usah repot-repot datang ke sumur selama-lamanya. Ini mungkin bisa dimengerti sebagai setengah sarcasm. Ada penafsir Alkitab yang berpendapat bahwa perempuan itu mungkin mengatakan hal itu sambil menurunkan timbanya, sedangkan Yesus tidak mempunyai sesuatu untuk mengambil air itu. Perempuan itu sama sekali tidak mengerti apa yang Tuhan katakan. Percakapan ini tidak nyambung.

Maka dari itu mulai Yoh 4:16, Yesus mulai mengambil angle yang berbeda. Yesus mengatakan “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.” Aneh, karena dari perbicaraan tentang air dan haus, tiba-tiba menjadi masalah suami. Mengapa Yesus menanyakan hal ini. Ada beberapa alasan yang boleh kita renungkan.

Hal yang pertama adalah adanya kata “ke sini”. Sebelumnya perempuan itu berkata supaya Yesus memberikan air itu supaya dia tidak usah datang lagi “ke sini”. Tuhan Yesus menangkap bahwa ini bukan hanya sekadar masalah repot mengambil air ke sumur yang jauh, karena ibu-ibu lainnya juga mengambil air di sumur yang sama. Mungkin Yesus menangkap dan tentu Dia mengerti apa yang terjadi dalam hidup perempuan ini. Ada masalah lain yang membuat perempuan ini tidak mau datang pagi-pagi ke sini, sebagaimana biasanya ibu-ibu yang lain. 

Mungkin bukan hanya masalah repot, tetapi uncomfortable, itulah sebabnya dia datang siang hari. Perempuan itu tidak mau datang pagi hari karena takut dicibir, digosipkan oleh ibu-ibu yang lain: inilah perempuan sundal itu yang sudah mempunyai lima suami, dan dia hidup sekarang bukan dengan suami aslinya.

Yesus menanyakan hal itu, mungkin juga mengajak perempuan itu untuk membawa suaminya untuk melindungi dia dari cibiran ibu-ibu yang lain. Perempuan itu sekaligus kaget, mungkin dia menghentikan timba-nya, namun jalan lagi, sambil menjaga perasaannya, menjaga wajahnya. Perempuan itu menjawab sesingkatnya supaya percakapan yang berbahaya ini berhenti. Perempuan langsung menjawab dengan singkat (Yoh 4:17) “Aku tidak punya suami”, dan berharap percakapan itu tidak berlanjut. Perkataan Yesus selanjutnya membuat perempuan itu takut sekali, karena hidup yang dia sembunyikan terbongkar.

Yoh 4:17-18 Tuhan Yesus berkata “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.”

Hal yang kedua di sini, Yesus mengetahui ada hal yang disembunyikan oleh perempuan itu, dan hal itu adalah sangat sensitif. Yesus ingin berbicara tentang hati perempuan itu yang paling dalam. Dia sudah berbicara tentang air hidup tetapi mentok, tidak nyambung. Kali ini Tuhan Yesus mau masuk ke dalam hati perempuan ini dengan satu kalimat yang menusuk sangat dalam. Seorang penulis mengatakan the quickest the way to the heart is thru the wound, jalan yang paling singkat ke dalam hati adalah melalui luka.

Di dalam bagian selanjutnya, meskipun percakapan tentang suami ini sangat singkat, namun itu adalah sangat dalam dan menjadi turning point di dalam hidup perempuan itu. Yoh 4: 28 selanjutnya menceritakan “Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota …“ Perempuan itu sadar akan sesuatu yang Tuhan sedang kerjakan di dalam dirinya.

Kita melihat juga dalam Yoh 4:19-20, perempuan itu mencoba lari lagi dengan berkata “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." Perempuan itu mencoba lari lagi dari percakapan tentang suami, dengan mencoba mengubah subjek percakapan.

Mengapa Yesus menanyakan hal tentang suami? Tuhan Yesus ingin masuk ke dalam hati yang paling dalam, yang paling gelap, yang bahkan orang itu sendiri takut untuk menghadapi.

Ada hal-hal di dalam hidup kita yang semua orang tahu, ada public life.

Ada hal-hal yang orang-orang secara umum tidak tahu, namun hanya orang-orang yang dekat dengan kita, seperti teman-teman dekat, teman-teman KTB. Ada hal-hal yang teman-teman kita tidak tahu, tetapi hanya orang di rumah kita yang tahu seperti anak-anak kita, suami/istri kita.

Ada juga hal-hal yang hanya orang-orang sekamar dengan kita yang tahu, seperti suami/istri kita.

Bahkan ada hal-hal yang hanya diri kita sendiri yang tahu, yang tidak pernah dibuka, ada dalam hati dan pikiran kita, yang tidak akan kita beritahu kepada siapapun. Kita sembunyikan, bungkus rapat-rapat.

Namun seorang penulis mengatakan bahkan ada hal-hal yang kita sendiri tidak tahu, atau kita takut untuk tahu. Ada bagian-bagian yang sangat tersembunyi, yang sangat rahasia, yang biasanya sangat gelap.

Kristus mau memberikan air hidup, yang bukan diberikan melalui mulut, tetapi air yang harus dia minum dengan hati yang paling dalam. Yoh 3:20 mengatakan “Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;” Mereka membenci terang supaya perbuatan mereka yang jahat tidak diekspos. Demikian juga perempuan ini, dia menutup hatinya, waktu Yesus berbicara tentang air hidup, dia tidak tahu tentang kebutuhan itu. Tuhan Yesus mau memberikan air hidup ke dalam jiwanya yang paling dalam, namun perempuan itu tidak sadar apa yang ada di dalam jiwanya yang paling dalam. Kristus sang Terang itu ingin masuk ke dalam hatinya yang paling dalam.

Inilah sebenarnya fungsi daripada kelompok kecil. Ada hal-hal yang saya kotbahkan, yang Tuhan bisa pakai untuk membongkar hati kita. Tetapi saya tidak bisa turun dan mengerti secara pribadi pergumulan yang ada di dalam setiap saudara. Karena itulah perlunya KTB/cell group. Saudara yang mengetahui secara pribadi pergumulan teman-teman kelompok. Saudara mungkin yang bisa berkata “pergilah dan panggilah suamimu”. Ketika sharing dan belajar di dalam kelompok kecil, biarlah saudara bukan hanya berkumpul untuk social life. Tetapi persekutuan yang sejati adalah saudara boleh mengerti pergumulan pribadi teman-teman kelompokmu. Membongkar hatinya dan kemudian boleh membangun satu sama lain, dan membawa teman-teman kita kembali kepada Kristus.

Tuhan Yesus tidak mau berbicara secara superficial, tetapi dia ingin masuk ke dalam hati yang paling dalam, walaupun itu harus melalui luka.

Hal yang ketiga, Kristus masuk melalui “angle” pembicaraan tentang suami, karena Yesus ingin membukakan dahaga hati yang dalam daripada perempuan ini. Setelah Yoh 4:17-19 berbicara tentang suami, Yoh 4:20 perempuan itu mengubah subjeknya, menjadi percakapan tentang ibadah: yang mana yang benar – menyembah Tuhan di gunung Gerizim atau di Yerusalem. Maka Yesus menjawab dengan berpindah topik lagi (Yoh 4:21) "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.”

Tuhan Yesus langsung berbicara tentang ibadah dan tidak pernah kembali lagi menyinggung masalah suami. Namun ketika Yesus menjawab, Dia mengarahkan kembali kepada maksud-Nya semula. Dia kembali kepada hati perempuan ini, bukan berbicara tentang tempat soal apakah Yerusalem atau gunung Gerizim; tetapi tentang menyembah di dalam Roh dan kebenaran. Tuhan Yesus mengikuti topik perempuan ini, tetapi Yesus tidak mengubah subjeknya yaitu hati perempuan itu.

Tuhan Yesus bukan ingin menyelesaikan masalah perzinahan perempuan ini, bukan untuk menghakimi perempuan ini, tetapi untuk membukakan dahaga hati yang paling dalam daripada perempuan ini, yang bahkan perempuan itu tidak mengenalnya.

Saudara coba bayangkan, tempatkan dirimu pada diri perempuan Samaria ini. Apa yang ada di dalam hati seorang perempuan yang mempunyai lima suami, yang sudah bersetubuh dengan lima pria, dan juga dengan pria yang keenam yang sekarang ada bersamanya. Mengapa dia melakukan ini, karena pada jaman itu hanya pria yang bisa menceraikan istrinya. Sang istri bisa melakukan sesuatu supaya suaminya menceraikannya. Bahkan pada jaman itu maksimum perceraian itu dua atau tiga kali. Mungkin setelah cerai lima kali, perempuan itu berpikir bahwa dia tidak usah kawin lagi, tetapi dia tetap membutuhkan laki-laki yang dapat memuaskan dahaganya. Ada satu kekosongan jiwa yang dalam yang dia pikir bisa dipuaskan melalui pria-pria yang dia nikahi. Dia mungkin kecewa berkali-kali sampai tidak bisa lagi mengerti apa artinya bahagia. Dia mencari sesuatu yang bisa memuaskan dahaganya yang paling dalam.

Di sini kita melihat perempuan itu memiliki dahaga yang paling dalam yang dia coba penuhi dengan seks. Inilah dunia , kita juga memiliki dahaga yang paling dalam, mungkin bukan seks, mungkin uang yang kita kejar, mungkin comfort, mungkin keluarga, mungkin dengan makan, mungkin dengan jalan-jalan holiday yang kita pikir bisa memuaskan dahaga kita. Tetapi semua itu seperti kolam yang bocor, kita mencoba mengumpulkan air, menggali kolam sendiri, tetapi bocor, tidak pernah ada airnya di situ, tidak pernah jiwa kita yang paling dalam terpuaskan. Ada suatu dahaga daripada orang dunia yang tidak pernah bertemu Kristus.

Namun kita boleh bertemu dengan Kristus yang mengenal kita dan perempuan ini sedalam-dalamnya. Dia mengetahui apa yang perempuan itu sudah kerjakan, yang sedang dikerjakan dan Dia sedang merancang hidup orang-orang yang dikasihi-Nya itu untuk boleh mengenal Dia dan merubah hidup masa depan orang-orang itu.

Perkataan Kristus menusuk sangat dalam, membongkar hati, tetapi sekaligus membongkar dahaga yang mungkin orang itu sendiri tidak mengerti. Kristus melakukan itu karena Dia mengasihi perempuan itu, supaya perempuan itu datang kepada Tuhan dan menemukan kepuasan jiwanya yang paling dalam.

Ada lagu yang berkata: (Lihat di Kidung Persekutuan Reformed Injili, hal 136).

Like the woman at the well, I was seeking

for thing that would not satisfy;

and then I heard my Savior speaking

“Draw from my well that never shall run dry”.

Biarlah kita juga boleh berkata seperti response daripada lagu tsb ….

Fill my cup Lord, I lift it up Lord!

Come and quench the thirsting of my soul.

Bread of Heaven feed me till I want no more.

Fill my cup, fill it up and make me whole.

Ketika kita datang seperti ini kepada Tuhan, maka Tuhan akan datang dan memenuhi dahaga jiwa kita yang paling dalam.

Salah satu ciri dari orang yang memiliki dahaga yang tak terpuaskan adalah ketidakstabilan dalam hidupnya, selalu mencari, selalu berpindah-pindah. Bentuknya bisa beragam-ragam, dari satu hal ke hal berikutnya, ada kegelisahan dan ketidakstabilan. Dia akan mencari dari satu pasangan ke pasangan yang lain seperti perempuan ini; dari satu pekerjaan kepada pekerjaan lain, dari satu negara ke negara lain, dari satu game ke game yang lain, dari satu Gereja kepada Gereja yang lain, dari satu site porno ke site porno yang lain. Terus mencari, tetapi tidak ada kepuasan yang dalam. Hanya dalam Kristus, ada ketenangan dan kestabilan. Bukan berarti hidup Kristen itu statis dan tak bergerak; bahkan orang yang tidak mau bergerak-pun bisa mencoba memenuhi dahaga jiwanya melalui apa yang dia miliki sekarang. Tetapi bukan di dalam Tuhan dan kehendak-Nya yang seringkali dinamis.

Mengikut Tuhan itu dinamis, tetapi ada perbedaan yang besar antara pergerakan  yang mantap dengan iman di dalam Kristus, dengan pergerakan karena kegelisahan dari satu hal ke dalam hal yang lain, karena ketidakpuasan, karena tidak menemukan identitas kita di dalam Kristus, tidak menemukan sekuriti di dalam karya Kristus. Dalam mengikut Tuhan ada pergerakan karena pimpinan Tuhan. Kalau kita belajar dari Paulus, dia bergerak terus, dari satu kota ke kota yang lain, dengan tantangan dan pergumulan yang dinamis. Tetapi dia bergerak karena Tuhan yang pimpin. Sebenarnya di mana saja itu sama saja, yang penting kita harus memiliki visi, mengerti pimpinan Tuhan dalam hidup kita, bisa di kota yang besar, ataupun juga di desa-desa.  Di mana saja Tuhan pimpin, ke mana saja Tuhan pimpin, kita bisa bergerak dengan iman.

Firman Tuhan kali ini berkata, jangan datang kepada games, jangan datang kepada pornografi, jangan datang kepada apapun yang ada di dalam dunia ini, tetapi datanglah kepada Tuhan, yang akan memuaskan dahagamu yang paling dalam selama-lamanya, dan Tuhan akan pimpin kita ke mana saja.

 

Summarised by Matias Djunatan | Checked by Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya