Worship > Sunday Service > Sermon Archives > Allah adalah Kasih

Worship

Allah adalah Kasih

Pdt. DR. Stephen  Tong

Preacher: Pdt. Dr. Stephen Tong
Date: Sunday, 11 June 2017

Bible reading: 1 Yoh 4: 7 – 12

Karena Allah itu kasih adanya, Dia memberikan anak-Nya kepada dunia ini sehingga kita yang mengenal Allah juga harus saling mengasihi. Disini kita melihat satu urutan: Allah yang kasih – memberikan anak-Nya – anak-Nya itu memberikan hidup kepada kita – hidup itu mengakibatkan kita mempunyai cinta kasih satu dengan yang lain.

Paulus disebut sebagai rasul iman, Petrus sebagai rasul pengharapan, Yakobus rasul perbuatan, maka Yohanes disebut sebagai rasul cinta kasih karena dia adalah satu-satunya rasul yang akhirnya kembali ke bukit Golgota, tampil di tempat Yesus Kristus,  berlutut di bawah kaki salib dan dengan air mata yang mengalir dia tidak berbicara satu kalimat pun.

Orang yang berbijaksana adalah suka mendengar, suka melihat tapi tidak banyak buka mulut. Orang yang bodoh akan terus berbicara, tetapi tidak melihat, tidak mengamati, tidak teliti dan tidak memikirkan dan tidak mendengar suara yang penting. Di bawah salib Kristus, Yohanes mengingat, menilai, membandingkan dan akhirnya introspeksi diri sendiri: apakah yang terjadi di depanku, apa yang terjadi saat ini. Yesus tidak lagi mengajar, berkhotbah, menyembuhkan, melakukan mujizat di atas kayu salib.

Pada waktu Yesus di kayu salib, kedua tangan dan kaki-Nya dipaku dan kepada-Nya dikenakan mahkota duri, darah mengalir dan di situ Ia berbicara 3 kalimat kepada Tuhan Allah dan 4 kalimat kepada umat manusia:

  1. Kalimat ke 1: Ya Bapa ampunilah mereka,  sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat
  2. Kalimat ke 4: Allah-Ku Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?.
  3. Kalimat ke 7: Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku .

Kalimat awal dan akhir memakai istilah “Bapa”, yang tengah memakai “Allah-Ku, Allah-Ku” karena dari permulaan hingga akhir Dia adalah anak yang menjalankan kehendak Bapa yang mengutus Dia menjadi Juruselamat.

Saat Dia memanggil Bapa, Dia adalah anak Allah, bersifat Ilahi. Tetapi pada waktu Dia menyebut “Allah-Ku, Allah-Ku” saat itu Dia tidak berkedudukan sebagai anak tetapi sebagai manusia yang dibuang oleh Tuhan Allah. Sifat Ilahi dinyatakan pada kalimat pertama dan terakhir, sifat manusia dinyatakan pada kalimat ke 4. Dengan demikian Dia adalah Allah, Dia adalah manusia dan Dia adalah satu pribadi. One person, two natures: the nature of God and the nature of man within one person.

Empat kalimat yang disampaikan Yesus di atas kayu salib kepada manusia adalah:

  1. Janji keselamatan kepada seorang perempuan yang berdosa paling besar
  2. Dia menyuruh manusia mengingat orang tua dan Dia serahkan ibu-Nya kepada Yohanes
  3. Berbicara kepada seluruh umat manusia: “Aku haus” karena Dia menyatakan bahwa Dia mengharapkan semua orang pulang kepada Tuhan
  4. Yesus juga mengatakan satu kalimat “Sudah genap“ memberikan suatu kemenangan kepada seluruh umat manusia bahwa Anak Allah sudah membuka pintu surga, menghentikan kuasa setan dan mengampuni segala dosa.

Cinta kasih Allah yang dinyatakan di atas kayu salib seperti ini dimengerti oleh satu orang yang ada di situ, yaitu Yohanes. Disini dia mengerti kasih lebih dalam dari siapapun di dalam dunia.

Pengaruh Yohanes lebih besar dari pengaruh Plato, Sokrates. Yohanes menerima langsung wahyu dari Allah, pengajaran dari Yesus Kristus, dan terakhir dengan kedua matanya dia melihat bagaimana Yesus mati di atas kayu salib, bagaimana Dia sabar, menanggung kebencian dari seluruh umat manusia dan mengalirkan cinta kasih dari Allah. Dan akhirnya kalimat-kalimat dari Roh Kudus membentuk pikiran dan hatinya: Karena demikianlah Allah mengasihi isi dunia sehingga dikaruniakan anak-Nya yang tunggal. Allah itu kasih adanya. Bukan saja Allah itu mempunyai cinta kasih, Allah itu diriNya adalah kasih, sehingga kasih itu adalah Allah, Allah adalah kasih. Kasih itu adalah substansi dari Ilahi itu sendiri, bukan hanya salah satu dari begitu banyaknya sifat moral Tuhan Allah.

Dalam pembacaan Alkitab 1 Yohanes 4: 9 dikatakan:  “Dalam hal inilah kasih Allah diyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus anakNya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.“

Bagaimana dunia mengenal keKristenan? Kalau kita mempunyai cinta kasih. Kasih Allah menyatakan hidup Allah, dan hidup Allah menjadi fondasi kasih Allah. Allah mengasih kita karena Allah itu adalah Allah yang hidup dan hidup Allah adalah hidup yang kasih maka kasih itu memberi. Dimana ada cinta kasih, disitu ada pemberian. Kasih mengakibatkan sesuatu yang dihasilkan yaitu memberikan hidup.

Ayat 10 menyatakan: “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita”.  Sebelum kita mengasihi Allah, Allah mengasih kita terlebih dahulu. Sebelum kita bertobat, Yesus mati bagi kita terlebih dahulu. Kristus mati bagi kita sudah cukup menyatakan kasih Allah.

Janganlah kita menjadi sombong. Walaupun kita sampai menghancurkan tubuh, patahkan tulang demi memberi persembahan kepada Tuhan, tetap tidak layak karena Dia sumber kasih. Dia yang mengasihi kita terlebih dahulu.

Siapa yang tidak mengalami salib Kristus, tak mungkin mengerti apa artinya cinta kasih yang sejati. Kasih mengakibatkan perdamaian.

Tuhan mengirim anak-Nya untuk menjadi pendamai, untuk membawa orang berdosa kembali kepada Dia. Dan kita harus belajar bagaimana mengampuni, mendamaikan, bagaimana kita boleh membawa semua yang dulu musuh kita kembali kepada Tuhan. Bukan berarti kita kompromi dengan dosa, bukan berarti kita tidak memperdulikan kesalahan, tetapi kita tidak membenci orangnya tetapi membenci dosa-dosanya. 

 

Summarised by Adrian Gandanegara | Checked by Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya