Worship > Sunday Service > Sermon Archives > Barangsiapa Haus, Baiklah Ia Datang kepada-Ku dan Minum

Worship

Barangsiapa Haus, Baiklah Ia Datang kepada-Ku dan Minum

Pdt. Budy  Setiawan

Preacher: Pdt. Budy Setiawan
Date: Sunday, 10 September 2017

Bible reading: Yoh 7:25-39

Kita akan merenungkan perkataan Tuhan dalam Yohanes 7:37-38 yang begitu indah, suatu pangilan dari Yesus Kristus yang layak dicatat dengan tinta emas. J.C. Ryle mengatakan dalam bagian ini: ”They are some passages in scripture which deserve to be printed in letters of gold, of such passages the verses before us formed one. They contain one of those wide full free invitation to mankind which make the gospel of Christ so eminently the good news of God.”. Inilah perkataan Tuhan di ayat 37-38 dan kemudian dijelaskan oleh Yohanes di ayat 39. Jangan kita anggap panggilan ini sebagai panggilan yang tidak ada relevansinya dengan kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan dan bagi dunia ini yang sudah berdosa. Salah satu contoh ekstrim dari konsekuensi mentaati panggilan ini adalah jika pemimpin-pemimpin dunia ini mentaati panggilan ini, seperti misalnya Kim Jong Un, maka dunia ini tidak akan menjadi perang. Panggilan ini berkata: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum. Barangsiapa yang percaya kepada-Ku seperti yang dikatakan kitab suci, dari dalam hatinya akan mengalir aliran air hidup”.

Sebelum kita membahas dengan lebih detil akan panggilan ini, kita akan melihat konteks panggilan ini dari ayat-ayat sebelumnya sehingga kita semakin mengerti akan panggilan ini. Kalau kita melihat dari ayat Yoh7:25 dan seterusnya, dikatakan bahwa Tuhan Yesus sedang mengajar di bait Allah. Pengajaran-Nya memberi kesan dan dampak yang mendalam sehingga menimbulkan respon dari berbagai orang. Kita juga bisa melihat para penjaga yang disuruh oleh imam-imam kepala untuk menangkap Yesus Kristus. Kemudian kalau kita membaca Yoh 7:45-46, penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala setelah mereka melihat Yesus Kristus. Orang-orang Farisi lalu berkata kepada penjaga-penjaga itu: “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” . Maka jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu.”. Jadi bisa kita lihat bahwa pengajaran Tuhan Yesus memberi dampak yang luar biasa. Pengajaran ini khususnya membawa orang-orang yang mendengar mulai berpikir apakah Ia sungguh-sungguh Mesias (atau Kristus, dalam bahasa Yunani) yang dijanjikan didalam Perjanjian Lama. Mesias inilah yang akan menjadi jalan keluar dari segala kesulitan mereka. Hal ini juga dikatakan dalam ayat Yoh 7:26:” Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus?”.

Kita melihat bahwa pemimpin-pemimpin agama Yahudi jelas tidak suka terhadap apa yang terjadi dan mereka merasa terancam. Karena itu mereka berusaha menangkap dan membunuh Yesus. Ayat Yoh 7:30 mengatakan “Mereka bersaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.”. Kemudian dalam Yoh 7:32 kita juga bisa melihat bahwa orang-orang Farisi berusaha menghentikan apa yang dikerjakan oleh Kristus. Salah satu hal yang membuat mereka marah sesungguhnya adalah perkataan Tuhan Yesus di ayat Yoh 7:28 dan 29 yang menusuk hati mereka. Dalam bagian itu Yesus mengatakan bahwa Ia kenal kepada Allah yang mengutus-Nya, tetapi orang Farisi tidak mengenal Allah. Tentu ini adalah perkataan yang menusuk hati orang-orang Yahudi, khususnya pemimpin-pemimpin agama Yahudi. Dalam bagian tersebut orang-orang yang disebut Kristus tidak mengenal Allah adalah pemimpin-pemimpin agama Yahudi, yaitu orang-orang yang berpengaruh, melakukan segala hukum Taurat dengan taat, dan yang mengklaim bahwa mereka adalah satu-satunya bangsa yang menerima wahyu dari Tuhan. Mereka juga termasuk bangsa yang dipilih Allah sebagai umat pilihan-Nya di Perjanjian Lama.

Alasan Yesus mengatakan kepada mereka bahwa mereka tidak mengenal Allah adalah karena mereka ingin membunuh-Nya. Jika mereka tidak mengenal Allah, maka mereka tidak mungkin mengenal Yesus. Karena tanda mereka tidak mengenal Allah adalah mereka tidak mengenal Kristus. Injil Yohanes berkali-kali terus menekankan bahwa bagaimana orang berespon kepada Kristus itu menentukan orang itu sebenarnya mengenal Allah atau tidak. Injil Yohanes tidak hanya mempunyai berita yang berpusat kepada Allah tetapi juga bersifat kepada Kristus.

Kita bisa melihat hal ini misalnya di ayat-ayat berikut:

  • Yohanes 5:23b mengatakan “Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia”. Jadi bagaimana kita berespon kepada Kristus menentukan bagaimana kita berespon kepada Allah.
  • Yohanes 5:42-43, Yesus mengatakan bahwa ketika orang tidak menerima Ia yang datang dalam nama Bapa, maka orang tersebut tidak mempunyai kasih Allah didalam hatinya.
  • Yohanes 6:45 mengatakan kalau orang betul-betul mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, maka orang itu akan datang kepada Kristus.
  • Kristus dalam Yohanes 8:19b  mengatakan kalau orang mengenal Ia maka orang itu juga mengenal Allah.
  • Dalam Yohanes 8:42, Yesus mengatakan: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah.”.

Jadi Alkitab mengajarkan berkali-kali kepada kita bahwa bagaimana respon manusia kepada Kristus menentukan apakah dia sungguh mengenal Allah. Jadi jika orang-orang ini mau menangkap dan membunuh Yesus, maka sesungguhnya orang-orang ini tidak mengenal Allah. Sehingga jika kita ingin mengetahui apakah seseorang mengenal Allah, kenalkan dan ceritakan siapa Pribadi Yesus Kristus. Ceritakan apa yang Ia lakukan dan katakan dan terutama akan apa yang Ia lakukan dikayu salib dan kebangkitan-Nya dari kematian yang menjadikan Ia satu-satunya  pengharapan bagi umat manusia. Ketika orang mendengar injil Yesus Kristus, bagaimana orang berespon kepada Kristus itu menentukan bagaimana ia berespon kepada Allah. Meskipun seseorang mengklaim mereka mengenal tuhan apapun, respon mereka kepada Kristus menguji apakah mereka sungguh-sungguh mengenal Allah.

Kalau kita lihat dalam ayat 30 dan 33 kita bisa melihat, meskipun ditengah segala pertentangan dan kemarahan dari orang-orang Yahudi, tidak ada seorangpun yang bisa menyentuh Dia sebab saatnya belum tiba. Ini adalah kebenaran yang terus ditekankan dalam injil Yohanes, bahwa Tuhan Yesuslah yang menentukan kapan Dia ditangkap. Dia sendiri yang menentukan dengan cara seperti apa Dia akan ditangkap. Dia sendiri yang menentukan waktunya sehingga tidak ada seorangpun yang mengambil nyawa-Nya daripada-Nya, kecuali Ia menyerahkannya (bdk. Yoh 10:17-18). Ini adalah kalimat satu-satunya yang boleh dikatakan oleh seorang manusia seumur hidup di sepanjang sejarah. Karena selain Kristus tentu kita tahu bahwa tidak ada orang yang bisa mengatakan kalimat seperti ini, karena setiap kita kalau sudah waktunya meninggal tidak ada satu detikpun yang bisa kita tambah dari nyawa kita. Ini juga menjadi penghiburan bagi kita tentunya, bahwa meskipun kita tidak bisa mengatakan perkataan ini seperti Yesus, tapi kita bisa mengatakan “tidak ada selembar rambutku pun akan jatuh kalau Tuhan tidak mengijinkan.”. Allah yang berdaulat dan memimpin kehidupan Kristus adalah Allah yang sama yang berdaulat dan memimpin kehidupan kita. Ini memberi kekuatan kepada kita dalam menghadapi apapun didalam dunia ini. Mereka berusaha menangkap Dia tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuh Dia sebab saatnya belum tiba. Tuhan memiliki renaca bagi kita masing-masing yang berbeda-beda. Meskipun tentu ada persamaannya, yaitu kesesuaian dengan prinsip firman Tuhan. Namun secara spesifik ada perbedaan-perbedaan. Tetapi, dalam seluruh perbedaan pengalaman langkah-langkah kehidupan kita, Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat atas hidup kita. Ini menjadi penghiburan dan kekuatan bagi kita, khususnya bagi anak-anak Tuhan yang sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat atas hidupnya. Sehingga apapun yang terjadi didalam hidup kita adalah karena Tuhan mengijinkannya. Kalau Tuhan tidak mengijinkan, maka tidak ada apapun yang bisa terjadi yang bisa mencelakakan dalam kehidupan kita.

Kita bisa melihat hal ini dari orang-orang Kristen di gereja mula-mula. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang immortal, sehingga menyebabkan orang-orang Romawi dan Yunani takut dengan orang-orang Kristen. Mereka takut mereka mengetahui bahwa orang-orang Kristen mengklaim dan betul-betul menghidupi bahwa hidup mereka itu immortal. Apa yang dimaksud dengan immortal disini? Bukankah mereka kalau ditaruh dilubang singa akan mati dicabik-cabik oleh singa? Immortal disini berarti satu kesadaran bahwa walaupun mereka sudah mati secara fisik, mereka tetap hidup karena Yesus mengatakan bahwa orang-orang yang mati didalam Tuhan tetap hidup walaupun mereka sudah mati.

Inilah konteks mengapa orang-orang tidak senang dan mau mengangkap Kristus, meskipun orang-orang ini tidak mampu. Namun mereka tetap mencari-cari cara untuk mengangkap Kristus. Tetapi sampai waktunya tiba, artinya sampai Kristus sendiri mengatakan “inilah waktu-Ku” , tidak ada seorangpun yang bisa mengangkap-Nya. Hal ini karena Kristus adalah Tuhan yang berdaulat atas musuh-musuhNya.

Dalam konteks orang-orang Yahudi yang ingin menangkap dan membunuh Kristus inilah Ia mengatakan kalimat yang indah ini (ayat 37-38); meski tentu dalam konteks tersebut ada juga beberapa orang yang percaya diantara mereka. Jadi, kepada para musuh-Nya Kristus mengatakan kalimat “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum.” dalam ayat 37-38.

Ini mirip dengan perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 23:37. Ayat ini memiliki konteks yang sama dimana orang-orang Yerusalem menganiaya dan membunuh nabi-nabi dan Tuhan seperti seekor induk ayam yang membuka sayapnya ingin mengumpulkan mereka. Inilah panggilan Tuhan yang begitu indah dan juga adalah panggilan bagi kita sekalian. Berkali-kali Tuhan Yesus membuka tangan-Nya lebar-lebar dan berkata “Datanglah kepada-Ku. Aku seperti induk ayam yang ingin mengumpulkan anak-anaknya”. Kristus ingin melindungi dan memberi apa yang sesungguhnya paling kita butuhkan dalam dunia ini; yaitu pemuasan dari keinginan hati kita yang paling dalam. Panggilan Tuhan Yesus inipun mengajak kita untuk datang kepada-Nya. “If anyone is thirsty let him come to me and drink”. 

Kita akan memikirkan panggilan yang indah ini dengan lebih detil dalam 4 poin ini:

Pertama, Tuhan Yesus mengatakan “barangsiapa haus”. Keadaan haus ini adalah satu-satunya keadaan yang perlu kita sadari untuk kita datang kepada Tuhan. Kita harus menyadari kalau kita adalah orang yang haus. Tentu ini adalah kehausan rohani didalam jiwa kita yang paling dalam. Seperti tubuh yang haus akan air, maka jiwa kita haus dan perlu akan Kristus yang adalah Air Hidup. Tuhan berkata bahwa kita harus menyadari kalau kita haus, seperti yang dikatakan Agustinus “Engkau telah menciptakan kami untuk mu ya Tuhan, dan hatiku terus gelisah sampai kami datang kepada mu”. Hati kita terus haus, terus kosong sampai kami datang kepada Kristus. Betapa bodohnya orang yang coba memuaskan dahaga jiwanya dengan seks, uang, kemakmuran, kemewahan, kesusksesan, pornografi, dengan menjaga hidup kita supaya tidak mengalami kesulitan, dan sebagainya. Hal ini adalah kebodohan karena Tuhan Yesus mengatakan berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran (righteousness). Berbahagialah justru ketika engkau lapar dan haus bukan akan seks, uang, kemewahan, tetapi orang yang haus akan kebenaran. Sadar bahwa kebutuhan kita yang paling dalam adalah memiliki relasi dengan Tuhan. Inilah yang Tuhan inginkan. Karena ketika kita sadar akan kelaparan ini, barulah kita akan dipuaskan.

Orang-orang Yahudi yang mendengar khotbah Petrus di hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2), yang intinya adalah tentang Kristus yang mati dan bangkit, tertusuk hatinya dan mereka sangat terharu. Sehingga kemudian mereka mengatakan “Apa yang harus kami perbuat…”. Maka Petrus berkata “Bertobatlah, dan berikan dirimu dibaptis.”. Ketika mereka mendengar  firman Tuhan yang dikhotbahkan Petrus, Roh Kudus bekerja menimbulkan kesadaran akan kehausan dalam hati mereka. Bertobat boleh kita mengerti disini sebagai meninggalkan dosa; aku tidak tidak lagi memuaskan kehausan jiwa kita dengan hal-hal dalam dunia ini. Bertobat adalah meninggalkan segala dosa dan datang kepada Kristus sebagai satu-satunya air hidup yang boleh memuaskan dahaga jiwa kita. Kebenaran yang paling penting yang kita sadari tentang diri kita adalah kita adalah orang yang akan terus haus tanpa kita datang kepada Kristus, dan diluar Tuhan kita mati dan binasa. Ini kehausan bukan hanya seperti rasa haus sehari-hari didalam hidup kita. Martin Lloyd Jones menjelaskan hal ini dengan mengatakan ketika prodigal son itu lapar maka ia kemudian pergi ke kandang babi mencari makanan babi. Tetapi ketika dia kelaparan, maka ia pulang kepada bapanya. Inilah kehausan yang Tuhan Yesus maksudkan, kehausan yang ada dalam jiwa kita yang paling dalam. Biarlah kita sadar, bahwa tanpa Tuhan kita akan terus kehausan. Tanpa kita memiliki relasi dengan Tuhan, mengenal Dia, datang kepada Dia, jiwa kita akan terus kosong karena tidak ada apapun yang bisa memenuhi kehausan jiwa kita. Bukankah setiap dari kita sadar bahwa ada something missing didalam kehidupan kita?  Sesuatu yang kita tidak puas didalam hidup kita. Tetapi betapa bodohnya kita kalau kita coba puaskan dengan luxury, bahkan dengan anak-anak, pasangan, teman-teman, dan kesuksesan kita. Tidak, Tuhan Yesus mengatakan “barangsiapa haus baiklah Ia datang kepada-Ku dan minum”.

Kedua, jiwa kita bukan hanya yang bisa haus, tetapi juga yang bisa minum. Minuman rohani ini diminum bukan dengan mulut, tetapi ini adalah pergerakan hati yang datang kepada Tuhan. Ketika kita datang kepada Kristus dan minum, Dia bukan saja memberi kita minum tetapi Dia memberi diri-nya sendiri. Kristuslah yang kita minum, Kristuslah yang kita makan. “Barangsiapa yang makan dari daging-Ku dan minum darah-Ku, Aku didalam dia dan dia didalam Aku.”. Kita datang kepada Kristus karena Dia adalah Air hidup itu dialah Roti hidup itu, yang adalah kebutuhan paling dalam dari manusia. Biarlah kita datang kepada Dia dan menyadari bahwa hanya Kristus yang bisa memuaskan akan dahaga jiwa kita yang paling dalam. Kalau kita mencoba menyelesaikannya dengan hal-hal yang lain diluar Krisus maka, seperti yang dikatakan Martin Lloyd Jones, itu seperti dokter yang bodoh yang hanya coba menyelesaikan akan gejala dari satu penyakit saja. Dokter yang baik bukan memberikan kita obat untuk menyelesaikan gejala dari satu penyakit tetapi ia mencari penyebab dari munculnya gejala itu. Sehingga bukan tujuan utamanya untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi mencari akar dari rasa sakit tersebut. Rasa sakit Tuhan berikan supaya kita tahu bahwa ada yang salah dengan tubuh kita. Demikian juga rasa kosong didalam jiwa kita adalah cara Tuhan mengingatkan kita bahwa engkau tidak diciptakan untuk dunia ini; engkau tidak diciptakan untuk seks dan tidak diciptakan untuk apapun dalam dunia ini. Engkau diciptakan untuk Tuhan. Datanglah kepada Kristus, maka Kristus akan memberi minum kepadamu yang adalah diri-Nya sendiri.

Kebutuhan akan Kristus adalah akar masalah yang menjadi kebutuhan manusia. Biarlah kita datang kepada Kristus dan percaya bukan hanya setuju dengan siapa itu Kristus. Percaya berarti kita datang menerima Kristus dan minum seperti orang datang ke mata air yang jernih ditengah padang pasir yang mematikan. Itu artinya percaya; percaya artinya datang kepada Kristus dan minum.

Percaya bukan hanya mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Meskipun kitab Roma mengatakan kalau percaya adalah mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, konteks daripada kitab Roma adalah siapapun yang berani mengaku ada Tuhan lain selain daripada kaisar adalah orang yang siap dipenggal kepalanya. Jadi kalau mengaku Yesus sebagai Tuhan itu berarti orang itu siap mati. Tetapi mengapa jemaat di Roma berani mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan? Karena mereka sadar bahwa Tuhan Yesuslah satu-satunya yang memuaskan dahaga jiwa mereka, dan sampai matipun tidak ada yang bisa memisahkan mereka daripada kasih Kristus. Kristus menjadi yang utama, Dialah Air hidup; kalau kita tidak datang dan minum dari Kristus justru kita akan mati.

Poin ketiga ada di ayat 38: “Barangsiapa yang percaya kepadaku, dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”. Ayat ini mengatakan ketika kita datang kepada Kristus kita tidak akan mendapat hanya sekali minum, tetapi kita mendapat mata air yang tidak pernah berhenti mengalir mengeluarkan air. Hal ini berarti kita tidak perlu lagi mencari kepuasan jiwa kita didalam apapun didalam dunia ini. Inilah pengalaman anak-anak Tuhan, dan pengalaman setiap orang yang meninggal didalam Tuhan. Kita tahu semakin orang menghadapi kematian, semakin mereka sadar bahwa tidak ada apapun didalam dunia ini yang bias memuaskan jiwa kita. Karena kita tahu kita akan lepas semuanya; suami, isteri , anak-anak, cucu, menantu, saudara, harta kita, dan apapun yang kita miliki selama kita hidup. Tetapi biarlah kita boleh mengalami ini bukan ketika kita menghadapi kematian, tetapi mulai dari sekarang ini. Biarlah kita sadar ketika kita datang kepada Kristus, kita tidak perlu mencari kepuasan ditempat-tempat lain. Karena Kristus adalah air hidup itu ada didalam kita. Sehingga dari dalam hati kita akan mengalir aliran-aliran air hidup. Kita datang dan dipersatukan didalam Kristus ketika kita sungguh-sungguh beriman kepada Kristus; Kristus ada didalam kita, dan kita didalam Dia. Maka hidup kita akan ada kesukaan, kedamaian, kekuatan yang ada didalam batin kita. Biarlah ini memberi perspektif yang baru dalam hidup kita.

Arti yang kedua didalam ayat 38 ini adalah kita menjadi sarana yang mengalirkan air hidup itu bagi orang lain. Sehingga, bukan hanya kita sendiri yang akan dipuaskan dengan Tuhan dengan air yang mengalir tidak habis-habisnya. Anak-anak Tuhan yang sejati akan menjadi saluran berkat, karena dari jiwanya mengalir air hidup itu sehingga menjadi berkat bagi orang-orang lain. Inilah tanda setiap setiap anak-anak Tuhan yang mengenal Kristus. Tidak ada orang Kristen yang seperti laut mati. Laut mati disebut laut mati karena tidak ada yang bisa hidup didalamnya karena dia terus menerima aliran air dari luar, datang terus situ tapi air itu tidak mengalir keluar. Dia terus menerima sehingga kadar garamnya tinggi sampai orang bisa terapung. Demikian juga kita, kalau kita hanya menerima maka kita akan mati dan menjadi tanda bahwa kita tidak pernah sungguh-sungguh menerima Kristus yang sejati. Ketika kita datang kepada Kristus dan menyadari bahwa kita ada sebagaimana kita ada karena anugerah Tuhan,  hidup kita akan menjadi berkat bagi orang-orang lain. Hidup kita boleh melayani, mengasihi, dan memberitakan injil kepada orang lain. Itulah yang Tuhan ingikan bagi kita.

Poin keempat ada di ayat 39, yang merupakan penjelasan dari Yohanes tentatng perkataan Yesus di ayat 37 dan 38. “yang dimaksudkan-Nya adalah roh yang diterima mereka yang percaya kepada-Nya. Sebab Roh itu belum datang sebab Yesus belum dimuliakan.”. Ayat 39 menegaskan bahwa ada pengalaman dengan Roh Kudus yang tidak bisa kita nikmati sampai Kristus itu mati, bangkit, naik kesorga, dan dimuliakan. Pengalaman ini adalah persekutuan dengan Roh Kristus yang telah bangkit dan dimuliakan. Inilah yang dikatakan di Yohanes 14:16-17: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Ini artinya ketika kita datang kepada Kristus, menerima Dia dan minum Diri-Nya, maka sesungguhnya yang kita terima adalah Roh Kristus. Paulus di Roma 8:9 mengatakan bahwa Roh Kristus itu ada didalam hati setiap orang percaya. Jadi Roh Kudus itu juga disebut Roh Kristus disebut juga dengan Roh Allah. Karena itu ketika kita datang kepada Kristus dan sungguh-sungguh menerima Dia, maka sesungguhnya Roh-Nya itu tinggal didalam kita. Tuhan Yesus disini mau mengatakan bahwa kedatangan-Nya kedalam dunia ini menyatakan “Allah beserta kamu”, Immanuel. Tetapi ketika Kristus mati dan bangkit kemudian naik kesorga, Kristus mengirim Roh-Nya yang kudus sehingga dikatakan bukan lagi Allah beserta kita tetapi Allah didalam kita; God in us, Christ in us.

Ini adalah berkat yang besar dimana Tuhan inginkan kita untuk boleh nikmati dengan kita datang percaya dengan hati yang sungguh-sungguh kepada Kristus dan meresponi panggilan Tuhan ini, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum” “Barangsiapa yang percaya kepada-Ku seperti yang dikatakan kitab suci, dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup”.

Biarlah kita datang kepada Tuhan hari ini. Untuk kita yang sudah percaya, biarlah kita boleh dipuaskan dan disegarkan kembali oleh firman Kristus; oleh Kristus sendiri yang boleh hadir, memimpin akan hidup kita melalui Roh-Nya yang kudus yang tinggal didalam kita, dan yang terus menarik kita untuk kembali kepada Dia. Sehingga, kita tidak mencari kepuasan didalam apapun didalam dunia yang berdosa ini tetapi boleh datang kepada Kristus.

 

 

Summarised by David Hartana | Checked by Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya