Worship > Sunday Service > Sermon Archives > Kemerdekaan yang Sejati

Worship

Kemerdekaan yang Sejati

Pdt. Budy  Setiawan

Preacher: Pdt. Budy Setiawan
Date: Sunday, 26 November 2017

Bible reading: Yoh 8:30-36

Kebebasan atau freedom adalah sesuatu yang sangat berharga, sehingga banyak orang rela mati demi kebebasan bangsanya. Para pahlawan memberikan jiwanya demi kemerdekaan negaranya. Film “Braveheart” menggambarkan secara dramatis perjuangan bangsa Scotland. Film ini sangat indah dan panjang, dan mendapatkan banyak Oscar. Meskipun banyak yang mengkritik film ini karena ada banyak hal yang tidak berdasarkan sejarah, tetapi kita bisa belajar banyak hal dari film ini. Di dalam film itu William Wallace memimpin perjuangan bangsa Scotland, dan mengalahkan banyak musuhnya. Tetapi akhirnya dia tertangkap, dan dihukum mati. Musuhnya mengatakan, katakan satu kalimat saja “surrender”, maka kamu tidak akan disiksa dan dihukum mati. Tetapi dia tidak mengatakan surrender, sehingga kepalanya ditarik ke atas dan kakinya ditarik ke bawah sampai mau putus semuanya. Dengan kesakitan yang luar biasa, akhirnya sepertinya dia akan mengatakan sesuatu. Raja musuhnya memerintahkan ikatannya dikendorkan sedikit, karena mungkin William akan mengatakan “surrender”. Maka dengan nafas yang terakhir dia mengatakan satu teriakan “freedom”, dan dengan kalimat itu dipenggallah kepalanya.

Kali ini kita merenungkan kalimat yang sangat penting (Yoh 8:32) “kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." The truth will set you free adalah kalimat yang terkenal. Di dalam bahasa latinnya Veritas Vos Liberabit, kalimat yang dipakai paling sedikit oleh 22 universitas sebagai motonya; diantaranya adalah John Hopkins university, Ottawa university, California Institute of Technology.

 Apa artinya the truth will set you free? Untuk mengerti kalimat ini mari kita melihat teks alkitab ini.

Tuhan Yesus baru mengatakan di dalam Yoh 8:31 “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku”, selanjutnya Yoh 8:32 “dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Ketika orang-orang Yahudi mendengar perkataan ini, mereka mulai merengutkan kening mereka, apa maksud-Mu kebenaran akan memerdekakan kami. Apa maksudmu dengan “merdeka”? Kami selama ini merdeka, kami tidak pernah menjadi budak siapapun. Kami selalu menjadi orang-orang yang merdeka.

Maka Yesus menjelaskan hal ini dalam Yoh 8:34 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” Tuhan Yesus mau mengatakan tidak ada orang yang merdeka. Bukan hanya kamu yang tidak merdeka, tetapi bahkan tidak ada manusia di dunia ini yang merdeka.

Semua manusia adalah budak dosa, tidak ada orang yang benar-benar merdeka.

Ini adalah kalimat yang penting dari Tuhan Yesus, Tuhan Yesus mau mengatakan dosa bukan hanya perbuatan yang engkau lakukan, tetapi suatu kuasa yang menguasai hati manusia yang membuat manusia melakukan perbuatan jahat itu. Manusia berbuat dosa karena dia adalah budak dosa.

Tuhan Yesus mengatakan setiap orang yang berbuat dosa adalah budak dosa. Persoalannya bukanlah perbuatan yang manusia lakukan, tetapi siapa dirinya, status dirinya sebagai budak dosa. Kerena dia budak dosa maka dia melakukan dosa. Semua orang berbuat dosa, karena itu semua orang adalah budak dosa. Tidak ada orang yang merdeka, semua orang dikuasai oleh dosa.

Dosa memperbudak manusia dalam dua bentuk:

  • Dosa menguasai manusia sehingga ada sesuatu yang lain yang lebih diinginkan dibandingkan dengan Kristus. Sesuatu yang lain, apapun itu lebih berharga daripada Kristus. Tidak ada orang yang diluar Kristus yang bisa mengatakan bahwa Kristus adalah sesuatu yang paling dia inginkan, bahwa Kristus adalah sumber suka citaku. Dia bisa bersuka cita karena uang yang dia terima, karena suami atau istrinya, anak-anaknya, karena reputasinya. Manusia bisa berkata bahwa yang paling berharga adalah masa depanku. Tetapi tidak ada orang yang di luar Kristus yang berkata yang paling berharga, yang paling membuatnya bersukacita adalah Kristus. Ini adalah cara pertama dosa memperbudak manusia.

Sesuatu yang lain itu adalah berhala, dan berhala selalu memperbudak manusia, berhala menjadi yang utama, dan Kristus menjadi tidak berarti.

  • Dosa pada akhirnya mematikan manusia. Ini perlu kita tekankan karena ada orang yang berkata tidak apa-apa saya memiliki sesuatu yang lain yang berharga bagi saya. Tidak apa-apa saya menganggap uang lebih berharga daripada Kristus, atau suami/istri ku, atau reputasiku, masa depanku lebih berharga Kristus. Aku memilih hal-hal itu dan aku rasa aku merdeka. Tetapi saudara tidak akan mengatakan demikian, kalau saudara sadar bahwa ujung daripada berhala itu adalah kematian. Bahwa akhirnya engkau akan hidup di dalam neraka terpisah selama-lamanya dengan Kristus.

Di dalam kisah orang kaya dan lazarus (lihat Luk 16:19-31), orang kaya itu selama hidupnya tidak takut akan Tuhan, akhrinya dia masuk ke neraka dan menderita kesakitan di sana. Dia meminta kepada Abraham supaya Abraham menyuruh Lazarus memasukkan jarinya ke air untuk melepaskan dahagaku. Namun Abraham mengatakan tidak ada permintaan yang dikabulkan di neraka. Orang kaya itu kemudian berkata kalau begitu tolonglah suruhlah Lazarus turun ke bumi, untuk memperingatkan ada lima saudaranya yang masih hidup seperti dia dulu hidup. Mereka merasa bebas dengan apa yang mereka inginkan. Tetapi sekarang saya tahu hidup seperti itu adalah hidup yang tidak bebas sama sekali, karena kalau mereka tidak mengenal Tuhan mereka akan berakhir di neraka juga.

Dosa memperbudak manusia dengan cara seperti ini, bahwa ada sesuatu yang lebih berharga dibandingkan dengan Kristus dan ujungnya adalah kematian.

Dosa itu begitu dalam dan hanya Kristus yang dapat membebaskan kita dari perbudakan dosa.

Yoh 8:36 mengatakan “apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” Tuhan Kristus membebaskan kita dengan cara membalikkan akan kedua cara dosa memperbudak manusia. Kalau dosa membawa kita kepada maut, maka Kristus membebaskan kita dari maut, dengan mati menanggung dosa setiap orang yang beriman kepada Kristus. Kalau dosa memperbudak manusia dengan menempatkan sesuatu yang lain mencengkram hati manusia, maka kepada setiap orang yang beriman kepada Kristus, Tuhan memberi hidup yang baru.

Barangsiapa di dalam Kristus dia adalah ciptaan yang baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (lihat 2 Kor 5:17). Tuhan memberikan hati yang baru kepada orang yang percaya kepada Kristus. Tuhan memberikan keinginan yang baru yang menyadari bahwa Kristus lebih berharga daripada segala sesuatu. Bukan hanya dengan perkataan kita, tetapi juga nyata dalam perbuatan kita. Melalui perbuatan kita, orang lain bisa melihat bahwa Kristus adalah yang paling utama di dalam hidup kita.

Ravi Zakarias mengatakan sesuatu yang menarik dalam peringatan Refo500 di Jakarta. Dia bertanya “Apakah kita sungguh-sungguh mencintai kebenaran atau sebenarnya kita memilih hanya karena convenient”. Kadangkala kita harus berpikir, kita datang ke Gereja dan melayani Dia, betulkah itu karena kita mencintai Dia, atau itu hanya karena convenient. Kalau tidak convenient, ada kesulitan kita tidak mencintai Kristus dan berhenti melayani. Tetapi orang-orang yang ada di dalam Kristus, yang sudah mengalami kematian bersama-sama dengan Kristus, yang memiliki hati yang baru yang Tuhan sudah berikan, akan menyatakan bahwa Kristus adalah segala-galanya dalam hidup mereka. Di situlah kita mengalami kebebasan yang sejati.

Apa artinya benar-benar merdeka? Paling sedikit ada empat aspek kebebasan, yang kalau kita memiliki ke empat aspek ini, kita benar-benar merdeka.

  • Kita harus memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang benar itu. Kalau kita tidak memiliki keinginan maka kita tidak betul-betul merdeka.  Kita bisa melakukan sesuatu dengan kehendak kita sendiri, tetapi kalau kita memaksa diri kita maka sesungguhnya kita tidak betul-betul merdeka. Mungkin untuk waktu yang sementara itu bisa dilakukan, tetapi untuk jangka waktu yang panjang, kita tidak mungkin melakukan itu berdasarkan paksaan dari dalam atau luar diri kita. True freedom harus muncur dari hati kita yang paling dalam.
  • Kita harus memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu. Meski kita memiliki keinginan untuk melakukannya, namun kalau kita tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya, maka kita tidak bebas untuk melakukannya.
  • Kita harus memiliki kesempatan untuk melakukan itu. Meski kita ingin, dan memiliki kemampuan, namun kalau tidak ada kesempatan, maka kita tidak sungguh-sungguh merdeka.
  • Kita mengalami kesukaan yang selama-lamanya. Meskipun kita memiliki keinginan, kemampuan dan kesempatan melakukan itu, tetapi kalau akhirnya hal itu menghancurkan kita, maka kita sesungguhnya tidak betul-betul merdeka.

John Piper memberi suatu contoh yang menarik dalam hal ini. Bayangkan ada orang yang akan melakukan sky diving. Dia ingin merasakan kebebasan yang penuh saat meluncur di angkasa. Anggap orang yang mau skydiving pergi ke airport, tetapi di dalam perjalanan menabrak tiang listrik, dan dia tidak mendapat kesempatan. Maka dia not truly free. Namun katakanlah, dia tidak tabrakan, dan sampai ke airport. Namun sebelumn naik pesawat, ketika dilihat record-nya, maka ketahuan dia sering bolos waktu training, bahkan dia lupa bagaimana membuka parasut. Maka meskipun ada kesempatan, dia tidak memiliki ability, dan dia tidak memiliki freedom of ability.

Katakan hal yang kesatu dan yang kedua terpenuhi, dan dia naik pesawat, dan pesawat sampai ke tempat yang tepat. Namun ketika pintu pesawat dibuka dan dia melihat ke bawah dia langsun pucat mukanya. Tidak ada lagi keinginan untuk meloncat, maka tidak ada freedom of desire.

Ada satu syarat lagi supaya dia supaya dia mengalami betul-betul bebas. Maka katakanlah orang itu lompat dari pesawat, dia sangat menikmati, dengan penuh excitement dan kepuasan selama beberapa menit. Namun kemudian parasutnya tidak terbuka, maka dia tidak free-at-all. Meskipun dia saat itu betul-betul bebas di angkasa namun satu menit kemudian dia akan menghujam ke bumi dan mati. Maka semua kenikmatan kebebasan adalah sebenarnya ilusi semata-mata karena dia akan mati satu menit.

Kita hanya akan benar-benar bebas kalau Anak Allah membebaskan kita. Dia tidak hanya memberikan parasut bagi kita, namun Dia juga memberikan diri-Nya sendiri. Dia menangkap kita di udara sewaktu kita menukik tajam menghujam bumi. Setiap kita yang beriman di dalam Kristus, dipersatukan dengan Dia. Ketika Dia mati maka manusia lama kita juga mati bersama-sama dengan Kristus. Manusia lama yang diperbudak oleh dosa, sudah mati bersama-sama dengan Kristus. Kalau kematian tidak bisa menguasai Kristus, Dia bangkit dari mati, maka kitapun yang sudah dipersatukan dengan kematian Kristus, kita juga akan dibangkitkan dari kematian kita. Kita juga diberi hidup yang baru di dalam kehidupan Kristus. Hidup yang tidak lagi diperbudak oleh dosa. Hidup yang tidak lagi mencari harga diri sebagai hal yang ultimate di dalam hidupnya. Hidup yang tidak lagi mencari rasa aman, atau seks di dalam hidupnya. Bahwa harga diri, rasa aman dll, itu seluruhnya sudah diberikan di dalam Kristus. Sehingga kita dapat betul-betul merdeka di dalam Kristus. Kita boleh merdeka untuk memuliakan Dia di dalam hidup kita. Kita juga boleh dengan bebas mengasihi orang lain karena Kristus sudah mengasihi kita terlebih dahulu.

Biarlah kita sungguh sungguh menjadi anak-anak Tuhan yang sadar akan betapa berharganya apa yang sudah Kristus kerjakan. Kristus sungguh-sungguh memerdekakan kita, menjadikan kita manusia baru, memberi kita hati yang baru.

Segala hal yang paling berharga sudah diberikan di dalam Kristus.

Uang, seks, kesuksesan, nama-besar, keluarga, anak-anak tidak lagi menjadi tuan yang memperbudak kita, bahkan keinginan yang paling kita inginkan, yang di luar Kristus, tidak lagi menguasai kita. Kita tahu waktu kita dilepaskan dari hal-hal itu, bahkan sampai kematian pun tidak akan memisahkan kita dari Kristus.

Paulus mengatakan (Kis 20:24) “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” Kalimat Paulus yang simple ini menggambarkan true freedom. Kalau kita memiliki sikap hidup demikian, bukankah ini adalah sungguh-sungguh merdeka, bahkan nyawa kita sendiri tidak kita hiraukan. Kita memfokuskan apa yang Tuhan kehendaki, mengerjakan apa yang Tuhan inginkan. Ketika seluruh hidup kita hanya ingin memuliakan Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan. Maka disitulah kita mendapatkan kehidupan yang betul-betul merdeka, mendapat kesukaan yang berlimpah-limpah, enjoyment of Him forever.  

Biarlah hidup kita boleh mengalami kemerdekaan yang sejati. Ketika kita menerima perjamuan kudus, biarlah kita menyadari betapa berharganya apa yang sudah Tuhan kerjakan bagi kita, sehingga kita boleh sungguh-sungguh beriman kepada Kristus. Kita diingatkan bahwa tubuh-Nya yang diserahkan bagi kita, untuk menjadikan kita umat yang baru. Darah-Nya yang menyatakan perjanjian baru antara Dia dengan umat-Nya. Biarlah kita boleh diingatkan pengorbanan Kristus yang besar supaya kita bisa sungguh-sungguh merdeka.

Janganlah kita menjadi orang bodoh yang mengejar kekayaan, yang mengejar seks bebas, yang mengejar ketenaran dan kemewahan, yang ujungnya membawa maut, seperti orang yang terjun dengan parasut yang rusak, yang sebentar lagi akan menghujam bumi. Biarlah kita sebagai anak-anak Tuhan memfokuskan akan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Sekali lagi menempatkan Kristus sebagai raja di dalam hidup kita, dan ketika kita menempatkan raja di dalam hati kita, maka kita menjadi benar-benar merdeka.

Tuhan janjikan ini bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Melayani dan mengasihi orang-orang sekeliling kita, memuliakan Tuhan itu adalah kemerdekaan yang sejati. 

Summarised by Matias Djunatan | Checked by Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya