Worship > Sunday Service > Sermon Archives > Kejatuhan Petrus

Worship

Kejatuhan Petrus

Pdt. Budy  Setiawan

Preacher: Pdt. Budy Setiawan
Date: Sunday, 22 July 2018

Bible reading: Yoh 13:31-38

Peringatan Yesus kepada Petrus dan penyangkalan Petrus dicatat di dalam semua kitab Injil. Matias, Markus, Lukas dan Yohanes semuanya mencatat hal ini. Artinya peristiwa ini memberikan kesan yang mendalam kepada semua penulis Injil. Bagaimana Petrus yang merupakan rasul terbesar pada waktu itu juga pernah jatuh secara spektakuler. Yesus berkata (Yoh 13:38) “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Petrus adalah rasul yang paling penting di dalam Gereja Katolik. Bahkan di Vatican, Gereja katolik terbesar diberi nama basilica Santo Petrus, dan banyak patung-patung Petrus di gereja itu, jauh lebih banyak dari patung Paulus. Tentu Petrus adalah rasul yang sangat penting di dalam Alkitab, tetapi peringatan dan kejatuhan rasul yang sangat besar ini juga diingat dan memberi kesan mendalam bagi Gereja mula-mula. Bahkan peristiwa ini diabadikan di banyak gedung gereja di Perancis dan juga di Indonesia, dengan menaruh ayam di atas gereja. Di Indonesia, banyak gereja seperti di Magelang, di Yogya, dan di Jakarta, seperti Gereja Ayam di Pasar Baru, menaruh patung ayam di atas salib, di atas gedung gereja mereka. Kemungkinan besar hal ini diinspirasikan oleh peringatan Yesus bagi Petrus: sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.

Tidak lama sebelum peristiwa ini, Yesus memberikan perintah baru (lihat Yoh 13:34-35) yang sangat penting kepada para murid-Nya: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

Suatu prinsip penting dalam mempelajari Alkitab adalah scripture interpret scripture. Dalam hal ini, kita bisa mengerti perintah baru ini berdasarkan tulisan Yohanes yang lain, yaitu surat-suratnya dalam 1 Yoh dan 2 Yoh. Kita melihat bahwa kalau kita tidak saling mengasihi maka bukan hanya dunia yang tidak akan tahu bahwa engkau adalah murid-murid Kristus, tetapi juga itu menunjukkan bahwa engkau bukan murid Kristus. Kalau engkau tidak saling mengasihi engkau bukan murid Kristus. Yohanes  mengatakan dalam 1 Yoh 2:9 “Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.”; namun (1 Yoh 2:10) Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.” Berkali-kali Yohanes mengajarkan hal yang sama dalam tulisan-tulisannya, tentang perintah baru supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu.

Tuhan Yesus baru saja mengajarkan suatu perintah yang sangat penting, dan kita akan melihat dalam bacaan Alkitab kali ini, bagaimana respons Petrus tentang hal ini. Petrus lebih tertarik kepada kalimat sebelum perintah baru ini. Yesus mengatakan sebelum perintah baru ini (Yoh 13:33) “Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu.”

Simon Petrus meresponi kalimat ini, dan tidak mendengarkan perintah baru tersebut. Dalam Yoh 13:36 Petrus bertanya “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?”  Ini bukan suatu pertanyaan biasa, tetapi ini adalah suatu protes Petrus terhadap Tuhan Yesus. Seolah-olah Petrus ingin mengatakan aku akan mengikut Engkau kemanapun Engkau pergi; beritahu kepadaku ke mana Engkau akan pergi.

Tuhan Yesus menjawab perkataan Petrus ini Yoh 13:36 “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Seolah-olah Yesus ingin mengatakan apa yang Aku lakukan ini berat, dan kamu tidak akan kuat, biar Aku saja. Dia akan pergi ke salib, untuk mati bagi manusia berdosa, kau tidak bisa mengikut Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikut Aku. Ini menunjuk kepada Petrus, yang nanti, setelah dia melihat Yesus mati dan bangkit, Petrus akan diubahkan setelah dia gagal, dia akan mengikut, dan juga mati di atas kayu salib. Menurut sejarah, Petrus mati disalibkan secara terbalik dengan kepala di bawah. Karena ketika akan di salib, Petrus mengatakan dia tidak layak mati seperti Tuhan, maka dia minta untuk di salibkan secara terbalik.

Tetapi kali ini kita akan belajar bagaimana Petrus gagal, dan bagaimana kegagalannya menjadi peringatan bagi kita. Di dalam kegagalannya, Tuhan tidak meninggalkan Petrus, Tuhan mendidik dan membimbing dia, sehingga dia setia sampai mati.

Dalam Yoh 13:37 Petrus mengatakan “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Jawaban Yesus kemudian sangat serius (Yoh 13:38) "Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku?” Terjemahan NIV menangkap emosi Yesus dengan lebih dalam “Will you really lay down your life for me?” Yesus melanjutkan “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Kata “sesungguhnya” di dalam bahasa aslinya adalah “amin-amin” atau “truly-truly”. Terjemahan Indonesia tidak begitu kuat, “sebelum ayam berkokok”, terjemahan Inggris lebih tepat “the roster will not crow” atau ayam tidak akan berkokok sampai engkau menyangkal Aku tiga kali. Seolah-olah mulut dari ayam itu ditutup, tidak akan berkokok, sampai engkau menyangkal Aku tiga kali.

Ini menjadi suatu peringatan yang begitu mengerikan, dan itu sungguh-sungguh terjadi. Petrus yang sudah bersama-sama dengan Yesus selama tiga setengah tahun. Petrus yang sudah menyaksikan Yesus mengajar dengan penuh kuasa, Yesus meredakan badai dengan satu kata “tenanglah”, Yesus membangkitkan orang mati. Tetapi sewaktu Yesus ditangkap Petrus menyangkal Yesus, dengan mengatakan aku tidak kenal sama sekali orang ini. Rasul yang terbesar itu menyangkal tiga kali. Ayam tidak akan berkokok sampai engkau menyangkal Aku tiga kali. Itu sungguh-sungguh terjadi dan hancurlah hati Petrus.

 Ada beberapa hal yang dapat kita renungkan dari peringatan Yesus dan kegagalan Petrus.

 1. Setiap dari kita bisa jatuh dalam dosa

Seperti Petrus, di dalam Alkitab, kita membaca banyak nabi, raja yang diurapi Tuhan jatuh di dalam dosa. Alkitab dengan jujur mengatakan bahwa mereka juga orang-orang berdosa. Di jaman sekarang, juga banyak hamba-hamba Tuhan, dan saudara-saudara seiman kita jatuh di dalam dosa. Janganlah anggap diri kita lebih hebat daripada mereka, tetapi biarlah kita gentar dengan menyadari kalau Petrus bisa jatuh ke dalam dosa, maka kita pun pasti juga bisa. Kita harus senantiasa berjaga-jaga seperti Tuhan mengingatkan Petrus.

Ravi Zakarias suatu kali menceritakan pengalaman dia. Ravi seorang hamba Tuhan yang besar dan seringkali meninggalkan keluarganya dalam waktu yang lama. Dia sering pergi ke kota-kota di mana tidak ada orang yang mengenali dia. Dia biasanya ditaruh di satu hotel di mana tidak ada seorang pun tahu apa yang dia kerjakan; berbulan-bulan dia meninggalkan istri dan anak-anaknya. Ravi mengatakan tidak pernahkah saya tergoda di dalam keadaan sendiri seperti demikian. Karena seringkali di kamar hotel, ada selipan di bawah pintu, seringkali itu adalah iklan escort service dengan gambar wanita telanjang dan sebagainya. Dia mengakui bahwa kadang-kadang ada pikiran, ada godaan kalau dia melakukan dosa tidak ada seorang pun yang tahu.

Seorang pendeta, Paul Gunadi, pernah mengatakan orang cina memiliki sio yang berbeda beda, ada sio naga, babi, kuda, dll. Tetapi semua orang laki-laki mempunyai sio yang sama, yaitu sio buaya. Laki-laki khususnya bisa jatuh dalam dosa seksual. Tetapi kalau kita melihat sekarang perempuanpun bisa berbuat demikian. Ketika kita mendengar orang-orang jatuh dalam dosa, biarlah kita berhati-hati. Tidak menganggap kita lebih suci daripada mereka.

Setiap orang memiliki achiles heel. Achiles adalah seorang tentara yang luar biasa, yang kebal seluruh tubuhnya, tidak mempan dipanah, ditusuk dsb. karena waktu lahir dimasukkan ke dalam ramuan ajaib. Namun waktu dicelupkan, orang yang mencelupkannya memegang tumitnya. Akhirnya Achiles mati karena tumitnya kena panah. Setiap dari kita mempunyai achiles heel.

Daud tidak takut mengalahkan Goliat, dia menghadapi Goliat dengan gagah perkasa. Tetapi ketika dia melihat Batsyeba mandi, dia jatuh di dalam dosa. Abraham, Yudas, Petrus memiliki kelemahan masing-masing. Biarlah kita berhati-hati dan menyadari kelemahan kita, dan menjaganya dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan menjaganya di dalam kebenaran firman Tuhan. Cara lain adalah dengan mensharingkannya dengan saudara seiman, dan saling mendoakan, supaya kita tidak jatuh dalam dosa.

2. Petrus gagal sebelum kejatuhannya

JC Ryle pernah mengatakan “Men fall in private long before they fall in public.” Manusia jatuh di dalam kehidupannya pribadi jauh sebelum akhirnya dia ketahuan dosanya di hadapan banyak orang. Seperti rayap yang menggerogoti fondasi rumah, berbulan-bulan rayap memakan kayu fondasi rumah. Satu hari rumah itu tiba-tiba rubuh. Sebenarnya tidak tiba-tiba rubuhnya, tetapi sudah bertahun-tahun rayap itu memakan fondasi rumah. Di dalam kehidupan pribadi, yang tidak ada seorangpun tahu, ketika tidak ada orang yang tahu di dalam pikiran kita sendiri, kita berjaga-jaga sebelum kita terjatuh dan terbongkar segala dosa dan kesalahan kita.

Kita mendengar banyak pastur Katolik yang setelah berpuluh-puluh tahun terbongkar dosa mereka yang memperkosa anak-anak. Dosa mereka ditutup berpuluh puluh tahun. Tetapi kegagalan itu sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Sesudah berumur tujuh puluh atau delapan puluh tahun baru masuk penjara, hancur seluruh hidupnya. Biarlah kita menjaga kehidupan pribadi kita dengan berhati-hati.

 

Petrus tidak tiba-tiba menyangkali Yesus. Ada beberapa hal di mana Petrus gagal sebelum akhirnya dia menyangkal Yesus. Kita perhatikan dan ini menjadi peringatan bagi kita sekalian.

1. Petrus gagal karena dia overconfident

Kita melihat dari Markus 14:27-31 Petrus mengatakan “biarpun semua tergoncang imannya, aku tidak akan tergoncang.” Yesus kemudian mengatakan sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal aku tiga kali. Petrus sekali lagi mengatakan “sekalipun aku harus mati bersama sama dengan Engkau, aku tidak akan menyangkal Engkau.” Petrus ketika mengatakan kalimat ini, dia tidak mengatakan dengan sembarangan. Di dalam pengertian tertentu, dia rela mati bagi Tuhan.

Ketika Yesus ditangkap di taman Getsemani, Petrus mencabut pedang dan ingin menusuk orang yang akan menangkap Yesus, dan memotong telinga salah satu penjaga itu. Tetapi Yesus berkata kepada Petrus “sarungkan pedangmu, tidakkah engkau tahu bahwa Aku tinggal mengatakan satu kata saja, “tolong”, dan berlaksa-laksa malaikat akan datang menolong-Ku.” Engkau tidak mengerti bagaimana engkau mengikut Aku. Bukan dengan kekuatanmu, bukan dengan kehebatanmu, tetapi dengan kesadaran mentaati apa yang Ku kehendaki.

Petrus dalam satu pengertian, dia rela mati. Karena ketika dia mencabut pisaunya, memutuskan telinga salah satu tentara itu, maka itu berarti dia sedang menghadapi seluruh tentara di situ. Tetapi dengan overconfident, dia merasa dengan kekuatannya sendiri dia akan mengikut Kristus. Sehingga ketika Yesus mengatakan sarungkan pedangmu, Petrus menjadi tidak siap; dan ketika Yesus ditangkap, bagi Petrus, segalanya sepertinya sudah kalah. Petrus tidak siap untuk mengikut Kristus.

Saudara, biarlah kita selalu ingat, bahwa tanpa pertolongan Tuhan kita begitu lemah. J.C. Ryle mengatakan satu kalimat “benih dosa ada di dalam hati setiap manusia termasuk hati yang sudah diperbaharui. Hanya membutuhkan suatu keadaan tertentu, kelengahan yang sedikit saja, dan anugerah Allah yang ditarik untuk waktu yang sebentar saja, maka benih dosa itu akan menjadi tanaman liar yang tumbuh subur di dalam hidup kita.” Biarlah kita tidak menjadi orang yang overconfident, tetapi menjadi orang yang senantiasa bersandar kepada Tuhan.

Ada suatu kisah, seorang yang bekerja di Summer Camp. Dia disuruh untuk menarik tali ke tiang telepon, untuk mendirikan tenda dengan bagus. Dia diajari ketika naik ke atas tiang itu, dia dililitkan dengan satu sabuk kulit ke tiang itu. Ada satu teknik yang harus dia pelajari, untuk dapat naik maka engkau harus menarik dirimu ke belakang, sehingga sabuk itu mengikat engkau dengan tiang itu; dengan cara itu dia harus naik pelan-pelan. Ini adalah sesuatu yang counter-intuitive, justru ketika menarik dirinya ke belakang, dia akan takut jatuh. Tetapi justru dengan cara itulah engkau akan terikat dengan tiang itu. Maka dia mencoba naik dengan cara itu, tetapi ketika sudah sampai 2 meter, dia mulai ketakutan, maka kemudian dia mencoba mendekatkan diri ke tiang itu, dan jatuhlah dia.

Ini menjadi ilustrasi dalam hidup kita. Ketika kita mentaati Tuhan, kita harus sadar bahwa kita harus semakin bersandar kepada Tuhan. Ketika kita melakukan kehendak Tuhan, kita bukan melakukannya dengan kekuatan kita sendiri. Kita memang harus menyangkal diri, memikul salib, kita harus berjuang. Tetapi ketika kita melakukan kehendak Tuhan itu, kita sadar kita melakukannya bukan dengan kekuatan kita sendiri. Kita melakukannya dengan pengakuan bahwa tanpa anugerah Tuhan maka semuanya akan sia-sia. Mazmur 127 mengatakan kalau bukan Tuhan yang membangun rumah maka sia-sialah orang membangunnya. Kalau bukan Tuhan yang menjaga kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Kita tetap harus membangun rumah, kita tetap harus berjuang, tetapi ketika kita berjuang kita tahu bahwa keberhasilan kita bukan dari perjuangan kita. Usaha kita adalah bersandar kepada kekuatan dan anugerah Tuhan. Kalau itu bisa berhasil, itu semata-mata adalah anugerah dan pertolongan Tuhan. Tuhan memakai usaha kita, Tuhan menginginkan kita berjuang tetapi perjuangannya hanya berdasarkan kekuatan yang Tuhan berikan; bukan dengan kekuatan kita sendiri. ‘

2. Petrus gagal untuk berdoa

Ini membawa kita kepada pelajaran kedua dari kegagalan Petrus. Petrus gagal untuk berdoa. Ketika dia overconfident, dia merasa tidak perlu Tuhan, karena itu dia tidak berdoa. Ketika Yesus di taman Getsemani  (lihat Mat 26:36-46), Dia mengajak Petrus dan murid-murid yang lain “berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” Tuhan kemudian berjalan sendiri beberapa meter ke dalam taman, dan Dia sendiri berdoa dengan keringat bercucuran seperti darah. Dia berdoa Tuhan kalau boleh cawan murka ini lalu dari pada-Ku. Ini adalah cawan murka Allah terhadap manusia berdosa, yang Dia harus tanggung. Tetapi Dia tahu Dia harus meminum cawan itu sampai habis. Kalau itu kehendak-Mu ya Bapa, maka jadilah kehendak-Mu dan bukan kehendak-Ku. Setelah berdoa, Dia kembali ke murid-murid-Nya yang tadi Dia tinggalkan. Tuhan Yesus menemukan mereka sedang tidur dan tidak berdoa. Tuhan Yesus membangunkan mereka, mengapa kamu tidur, bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Berkali-kali Tuhan Yesus mengingatkan mereka. Tetapi Petrus gagal, sebelum Petrus menyangkali Tuhan, Petrus sudah gagal untuk berdoa.

Doa adalah hal yang sangat simple tetapi begitu penting. Doa itu berbicara kepada Tuhan, setiap kita pasti senang untuk berbicara, berkomunikasi. Biarlah kita sungguh-sungguh berbicara dengan satu pribadi, Tuhan yang mulia, tetapi juga Bapa kita yang ada di surga. Dalam perjamuan akhir Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya sebagai little children, anak-anak-Ku yang terkasih. Suatu kedekatan antara Tuhan dengan kita murid-murid-Nya.

Gus Dur pernah mengatakan kalau saya sakit saya senang untuk didoakan oleh orang Kristen. Karena orang Kristen itu Allahnya begitu dekat, tidak seperti allah orang Islam. Karena orang Islam harus memanggil allah mereka dengan speaker dengan suara nyaring; namun orang Kristen memanggil Allah dengan Bapa kami yang di surga.

Inilah yang Tuhan inginkan, supaya kita berseru kepada Dia setiap waktu. Sesuatu yang begitu simple tetapi banyak orang Kristen yang gagal berdoa.

Petrus gagal untuk berdoa, ini menjadi peringatan bagi kita. Kegagalan kita di dalam doa, seringkali menjadi kegagalan kita nantinya di dalam hidup. Kita mengetahui apakah suami / istri kita berdoa, apakah pacarmu berdoa. Kalau kita tidak berdoa, kita sudah gagal terlebih dahulu. Oscar Chamberlain mengatakan suatu kalimat “Prayer does not equip us for greater work”, doa tidak mempersiapkan kita untuk pekerjaan besar; “Prayer is the greater work.” doa itu sendiri adalah pekerjaan besar.

Biarlah di dalam hidup doa kita, kita bisa memiliki relasi dengan Tuhan. Saya seringkali menemukan banyak orang Kristen yang hidup doanya membosankan. Saudara mengetahui sendiri bagaimana hidup doa saudara. Apakah doa kita rutin saja, seperti doa sebelum makan atau sebelum tidur; dengan kalimat yang sama setiap kali. Barangkali kita sudah tahu sebelum kita berdoa, apa yang akan kita ucapkan, apalagi Tuhan. Saudara waktu bertemu pacar, apakah saudara mengatakan hal yang sama berulang-ulang, terus menerus? Tidak bukan, saudara mungkin akan berbicara macam-macam hal.

Saya mempunyai anak remaja yang mempunyai banyak teman di Gereja. Setelah mengobrol seharian di Gereja, dan ketika mereka sampai di rumah, mereka meneruskan obrolan mereka lewat internet, karena mereka senang dengan teman-temannya. Itulah kedekatan satu dengan yang lain. Biarlah persekutuan kita dengan Tuhan seperti demikian.

Kita boleh bicara dengan Tuhan apa saja. Tentu kita mengenal Tuhan sebagai yang suci, yang besar, yang mengetahui segala sesuatu. Tetapi Tuhan mengatakan kepada kita, Aku adalah Bapamu, engkau adalah anak-Ku. Tuhan Yesus mengatakan engkau adalah sahabat-sahabat-Ku. Biarlah kita boleh berdoa di dalam persekutuan doa, dan dalam kehidupan pribadi. Kalau kita gagal dalam berdoa, kita pasti gagal di dalam hidup. Biarlah kita terus menerus berdoa dan bersandar kepada Tuhan.

3. Petrus mengikut Yesus dari jauh

Kegagalan Petrus yang ketiga adalah Petrus mengikut Yesus dari jauh. Ketika Yesus ditangkap dan dibawa ke Imam besar, maka Petrus mengikut Yesus dari jauh. Kita bisa mengerti keadaan saat itu, karena Yesus ditangkap, kemungkinan Petrus juga dalam keadaan bahaya. Tetapi Petrus mau mengikuti Yesus, tetapi dari jauh.

Gambaran ini menjadi gambaran banyak orang Kristen. Kita mau ikut Yesus, datang ke Gereja, tetapi tidak mau terlalu dekat, tidak mau terlalu masuk ke dalam persekutuan pengikut Yesus. Kita datang Gereja tetapi tidak mau menjadi bagian tubuh Kristus yang terikat satu sama lain. Ini menjadi sesuatu yang sangat berbahaya dalam hidup kita. Petrus ketika dia jauh dari Yesus, di situlah dia jatuh. Kita tidak mau terlalu dekat di dalam keadaan yang berbahaya.

Tuhan Yesus mengatakan (lihat Yoh 15:1-8) Akulah pokok anggur yang benar dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku, dan Aku di dalam dia, dia akan berbuah banyak. Engkau harus terus dekat kepada-Ku. Suatu konsep yang indah, abide in Christ, tinggal di dalam Kristus, artinya juga tinggal di dalam tubuh Kristus, yaitu Gereja-Nya, bersekutu bersama, tumbuh bersama-sama. Melalui persekutuan, tentu ada risiko, tetapi hal itu akan mentajamkan manusia dengan sesamanya, kita justru mengalami pertumbuhan iman, kerohanian dan pikiran di dalam hidup kita.

Ada suatu ilustrasi, seorang kakek yang baru kehilangan istrinya yang meninggal. Suatu kali dia membongkar gudang, dan menemukan satu set piring yang tidak pernah dipakai. Ternyata piringnya warnanya biru dan dia ingat anaknya yang sudah menikah senang dengan warna biru. Begitu anaknya membuka set piring itu, dia kaget sekali, karena itu adalah piring keramik yang begitu indah, yang dibuat satu per satu dengan tangan di satu pabrik di Bavaria yang sudah lama tidak ada lagi. Piring-piring itu tidak pernah dipakai dan sangat indah. Namun kakek dan anak-nya tidak pernah melihat piring itu karena nenek menyimpannya untuk special occasion. Tetapi tidak pernah ada special occasion itu di dalam hidup mereka. Mulai hari itu anaknya memakai piring yang begitu indah.

Yang kita bisa dapatkan dari ilustrasi ini adalah ada hal-hal yang sangat indah dalam hidup kita namun penuh debu dan tidak pernah dipakai. Seringkali ini menggambarkan hidup orang Kristen. Tuhan sudah menyelamatkan kita dan Tuhan menginginkan dari kita suatu kehidupan yang betul betul hidup, life that is truly life, hidup yang berkelimpahan. Tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam engkau, tinggal di dalam firman-Ku dan engkau akan berbuah banyak. Tetapi engkau tidak pernah masuk sungguh-sungguh di dalam Aku, maka hidupmu penuh debu, dan tidak pernah berbuah.

Petrus gagal karena dia mengikut Tuhan dari jauh, biarlah kita masuk dekat, sedekat-dekatnya bahkan tinggal dalam firman-Nya.

4. Petrus berkumpul dengan orang-orang yang tidak percaya

Petrus tidak hanya mengikuti Yesus dari jauh tetapi juga dia berkumpul dengan orang yang tidak percaya. Bukan berarti kita tidak boleh bergaul dengan orang yang tidak percaya, tentu kita justru diutus kepada mereka untuk menjadi terang dan garam di tengah-tengah kegelapan. Tetapi kalau orang-orang di mana kita senang berkumpul adalah orang-orang yang tidak percaya menjadi suatu yang sangat berbahaya. Petrus berkumpul dengan orang-orang yang tidak percaya di depan gerbang. Salah satu dari mereka bertanya “engkau murid-Nya bukan?” Petrus menjawab aku tidak kenal orang itu, bahkan dia berkata aku bersumpah tidak mengenal sama sekali orang itu.

Petrus jatuh di dalam dosa karena dia over confident, karena dia tidak berdoa, karena dia mengikut Yesus dari jauh dan dia berkumpul dengan orang-orang yang tidak percaya. Ini menjadi situasi di mana dia jatuh di dalam dosa.

Saya mendorong saudara untuk memiliki teman-teman seiman yang bisa mendorong satu sama lain. Kalau ada mahasiswa yang baru datang di suatu kota dan mulai berteman dengan teman-teman yang rusak maka dengan mudah ikut dalam dunia yang berdosa. Tetapi ketika bertemu dengan saudara-saudara seiman yang saling menguatkan, saling mendorong, walaupun kadang-kadang ada konflik, namun itu dapat saling mentajamkan iman kita.

 

Kita bersyukur walaupun dengan segala kegagalan Petrus, Tuhan Yesus bukan saja memberi peringatan kepada Petrus. Tuhan Yesus mengatakan Dia berdoa bagi Petrus. Luk 22:31-32 “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untukk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Lukas mencatat seolah-olah setan berkata kepada Yesus, Petrus itu hanyalah omong besar, dia tidak punya bobot sama sekali, dia seperti sekam gandum yang gampang tertiup angin, ijinkan aku meniup dia dan Petrus akan terbang dan akan jatuh dan hancur.

Kejatuhan Petrus di dalam dosa, ultimately adalah di dalam kedaulatan Kristus. Kristus mengijinkan itu terjadi, tetapi sebenarnya Kristus sendiri yang menanggung the ultimate sacrifice. Yesus berkata kepada Petrus, nyawamu akan kau berikan kepada-Ku? tidak, Aku yang akan memberikan nyawa-Ku bagimu. Ketika engkau, Petrus menyadari kasih-Ku yang begitu besar kepadamu, melalui pertolongan Roh Kudus biarlah engkau insyaf. Engkau memang akan gagal, tetapi Aku sudah berdoa bagimu, dan Aku akan menyerahkan nyawa-Ku sebagai jaminan bahwa doa itu pasti akan terjadi. Engkau melalui pertolongan Roh-Kudus akan sadar dan bertobat dari segala dosamu, dan Aku akan memulihkan engkau supaya engkau dapat mengasihi-Ku, bukan dengan kekuatanmu sendiri. Ketika engkau sudah kembali, kuatkanlah saudara-saudaramu, gembalakanlah domba-domba-Ku.

Kita bersyukur kepada Tuhan karena Kristus mengetahui segala kelemahan kita. Kalau kita jatuh di dalam dosa, biarlah kita sadar, bahwa Dia adalah Tuhan yang berdaulat. Dia mengijinkan itu terjadi supaya kita belajar sepert Petrus, seperti nabi-nabi yang lain, seperti raja Daud. Bagi anak-anak Tuhan yang sejati, kejatuhan tidak pernah menghancurkan kita, karena Yesus berdoa bagi kita.

Lukas 22:32 mengatakan Yesus berdoa bagi Petrus, tetapi Paulus mengatakan (lihat Ibrani 7:25) Yesus sekarang pun berdoa bagi kita, bagi murid-murid-Nya yang sejati. Kalau kita sungguh-sungguh percaya di dalam Tuhan, maka kejatuhan kita di dalam dosa, adalah ijin Tuhan, di mana Tuhan juga bekerja di situ untuk mendatangkan kebaikan bagi anak-anak-Nya.

Petrus ketika sudah menyangkali Tuhan tiga kali dia sadar ketika ayam berkokok. Dia sadar akan perkataan Tuhan, dia sadar akan dosanya, dia pergi menangis dengan sedihnya. Tetapi ketika Yesus sudah mati dan bangkit, Yesus bertemu dengan Petrus (lihat Yoh 21:15-17) dan Dia bertanya tiga kali apakah engkau mengasihi Aku, untuk memulihkan Petrus yang sudah tiga kali menyangkali Yesus. Tuhan memulihkan Petrus “Hai Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus menjawab “Ya Tuhan aku mengasihi Engkau.” Setelah pertanyaan ketiga tentang hal yang sama, Petrus mengatakan Tuhan Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu aku sudah menyangkali Engkau tiga kali. Engkau tahu bahwa aku sudah menyombongkan diriku, kalau yang lain meninggalkan Engkau aku sekali kali tidak akan menyangkali Engkau. Engkau tahu bahwa aku sudah mengatakan bahwa sampai matipun aku mengikut Engkau. Tetapi Engkau tahu juga ketika aku ditanya orang tiga kali, aku menyangkali Engkau tiga kali, bahkan aku bersumpah aku tidak kenal dengan Engkau. Tuhan Engkau tahu segala sesuatu, tetapi Engkau juga tahu hatiku yang paling dalam.

Kalau kita adalah anak-anak Tuhan yang sejati, maka kita pun bisa dengan jujur berkata kepada Tuhan, meskipun kita pernah gagal, mungkin kita sekarang dalam keadaan berdosa kepada Tuhan, biarlah kita bertobat seperti Petrus meninggalkan dosa kita. Kita bisa berkata kepada Tuhan bahwa Engkau Tuhan tahu segala sesuatu, Engkau tahu segala kesalahan, kesombonganku di hadapan-Mu. Tetapi karena Engkau melihat hatiku sedalam-dalamnya, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.

Bagi anak-anak Tuhan yang sejati meskipun kita sudah gagal dan jatuh, menyangkali Tuhan, berdosa melawan Tuhan, biarlah kita tetap bisa mengatakan sedalam hati bahwa kita mengasihi Tuhan. Kembalilah kepada Tuhan. Biarlah hidup kita bisa memancarkan hidup yang sungguh mengasihi Tuhan.

 

Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, gembalakanlah domba-domba-Ku. Tuhan memulihkan Petrus, bahkan Tuhan bekerja di dalam kejatuhan Petrus, setelah dia bertobat, Petrus jauh lebih rohani, dibandingkan sebelum Petrus jatuh di dalam dosa. Biarlah waktu kita di dalam keadaan berdosa, kita bertobat, kembali kepada Tuhan, dan Tuhan akan bekerja memulihkan kita.   

 

Summarised by Matias Djunatan | Checked by Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya