Worship

Ikutlah Aku

Pdt. Budy  Setiawan

Preacher: Pdt. Budy Setiawan
Date: Sunday, 29 September 2019

Bible reading: Yoh 21:18-25

Dalam I Petrus 5:1-4, Petrus memerintahkan “Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.” Petrus memerintahkan kepada para penatua jemaat waktu itu dan juga sampai pada hari ini untuk menjadi orang yang dipercayakan oleh Tuhan untuk menggembalakan domba-domba Kristus. Untuk mengasihi, membangun domba-domba milik Tuhan untuk mengikuti Gembala Agung yaitu Yesus Kristus.

Kalau kita mengingat Injil Yohanes adalah satu-satunya kitab Injil di mana Yesus Kristus mengatakan Akulah Gembala yang baik (lihat Yoh 10:11). Injil yang lain tidak mencatat hal itu. Gembala yang baik adalah gembala yang memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Ini adalah sangat erat dengan panggilan Petrus. Setelah Tuhan memerintahkan Petrus “Gembalakanlah domba-domba-Ku” tiga kali (Yoh 21:15,16,17), Kristus menyatakan bagaimana Petrus akan mati di dalam bacaan kali ini (Yoh 21:18-19) “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki. Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah.”

Tuhan Yesus mengatakan “Akulah gembala yang baik”, dan sekarang Dia memerintahkan Petrus “gembalakanlah domba-domba-Ku.” Aku gembala yang agung, engkau mengikuti perintah-Ku, engkau juga sebagai gembala. Sewaktu engkau menjadi gembala, engkau mengikuti teladan-Ku, ikutlah Aku. Maka bagi Petrus, mengikut Kristus artinya bukan hanya menjadi gembala yang menggembalakan domba-domba-Nya, tetapi juga sebagai gembala yang baik, Petrus akan menyerahkan nyawanya bagi domba-domba-Nya. Karena itu Yesus mengatakan engkau akan mati, menyerahkan nyawamu bagi-Ku, dan kita mengetahui bahwa akhirnya Petrus mati seperti Kristus di atas kayu salib tetapi dengan kepala di bawah.

Setelah mengatakan demikian Tuhan Yesus Kristus mengatakan “Ikutlah Aku.” (Yoh 21:19). Ini adalah panggilan yang mengingatkan kita akan perkataan Yesus, barangsiapa mau mengikut Aku, maka engkau harus menyangkal diri, memikul salib, mengikut Aku (Mat 16:24). Ketika Tuhan Yesus mengatakan “Apakah engkau mengasihi Aku?” ini paralel dengan penyangkalan diri; mengasihi Kristus, bukan mengikuti keinginan sendiri. Bagaimana menyangkal diri? Dengan memikul salib, nubuat tentang kematian Petrus, Petrus akan dipaku di atas kayu salib, Petrus akan mengikut Yesus secara eksplisit.

Petrus dan murid-murid-Nya mengikuti teladan dan panggilan Tuhan Yesus ini. Mereka menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus. Mereka mengasihi Kristus, melayani, menggembalakan domba-domba Kristus, sampai mereka mati satu per satu sebagai gembala-gembala yang baik. Mereka mengikuti terus Yesus Kristus, gembala yang Agung itu, ke mana pun Tuhan pimpin. Jelas, ini bukanlah panggilan hanya bagi Petrus dan para rasul, tetapi juga bagi kita sekalian. Ketika Tuhan Yesus mengatakan barangsiapa mau mengikut Aku, biarlah dia menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku. Ini adalah juga panggilan kepada kita semua.

Saya mengajak kita berpikir apa artinya menyangkal diri?  Saya kuatir bahwa kalimat ini menjadi kalimat klise, karena kita terlalu sering mendengarnya, dan tidak mengubah apa-apa karena hidup sehari-hari kita dipenuhi dengan mentalitas yang sangat bertentangan dengan panggilan Tuhan.

Seluruh berita dari dunia ini adalah sangat bertentangan dengan panggilan Tuhan kepada kita. Dunia hidup dengan mentalitas save yourselves, all is about me and my comfort. Berita ini ada di mana-mana, dan problemnya adalah ketika itu juga terjadi di Gereja.

Bagaimana pujian dan apa yang Gereja beritakan juga sering berfokus kepada diri sendiri. Ada seorang pengkotbah mengatakan kalau saudara mau melihat apakah Gereja itu berfokus kepada kebutuhan kita, segala apa yang kita inginkan atau kepada Tuhan, maka saudara bisa melihat puji-pujian yang dinyanyikan di dalam Gereja itu. Kita bisa melihat isi dari pada pujian-pujian itu. Puji-pujian yang berbicara tentang Tuhan, tentang kehendak-Nya, kasih-Nya, belas-kasihan-Nya, kebaikan-Nya, kemuliaan-Nya, seluruhnya berfokus kepada Kristus. Kita memuji, seluruh bumi memuji, malaikat bersorak, God has spoken by His prophets, spoken and changing world, to proclaim, God the one, the righteous love, in the world despair eternal, God is free enthroned eternal, God the first and God the last. Seluruhnya berfokus kepada Kristus, berfokus bukan kerinduanku, keinginanku, kebutuhanku. Bukannya tidak boleh menyatakan keinginan dan kebutuhan kita, tetapi fokusnya harus kepada Tuhan, kepada kehendak-Nya dan rencana-Nya.

Tetapi di tengah lingkungan kita, di tengah pekerjaan kita, di sekolah kita, prioritas yang kita lihat adalah kepada diri sendiri. Seluruh industri berjalan dengan berfokus kepada apa yang orang butuhkan, apa yang orang kejar dan inginkan. Kalau kita tidak sungguh-sungguh mengerti betapa radikalnya perkataan Kristus, menyangkal diri, memikul salib, mengikut Aku, maka ini menjadi sesuatu klise.

Kristus berkata (lihat Mat 16:25-26) barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya justru akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, dia justru akan memperolehnya. Kristus melanjutkan, apa gunanya jika seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya. Tetapi dunia ini terus mempengaruhi kita supaya kita mengejar apa yang diinginkan oleh diri kita sendiri.

Di dalam membahas Christian hedonism, problemnya bukan masalah comfort, satisfaction, happiness kita, melainkan karena Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan ke situ.

Segala tindakan kita bertujuan supaya membuat kita senang, comfortable, puas.

Blaise Pascal mengatakan bahwa ini adalah motivasi semua orang di seluruh dunia, bahkan mereka yang menggantung dirinya. Orang yang membunuh dirinya memang sedang dalam keadaan putus asa, sedih maka dia ingin lepas dari keadaan itu; dengan kata lain dia ingin menemukan suka cita, kebahagiaan, comfort, di luar keadaan dia sekarang. Problemnya bukan mencari comfort dan satisfaction itu salah, namun kita mencarinya di luar apa yang Tuhan kehendaki, kita mencari itu di luar dari pada diri Tuhan itu sendiri.

Heidelberg cathechism sendiri mengatakan, what is your only comfort? Heidelberg cathechism mengatakan “What is the chief end of men?"

Kalimat ini menggunakan kata “end” bukan “ends”, artinya hanya ada satu tujuan yang utama yaitu: to glorifiy Him and enjoy him forever. Ini bukan dua hal yang berbeda tetapi satu hal yang dilihat dari dua sisi. Memuliakan diri Dia dan menikmati Dia selamanya.

Ketika kita sungguh-sungguh memuliakan Dia maka kita akan menemukan kenikmatan, kesukacitaan, yang tertinggi, yang Tuhan sediakan bagi semua manusia. Karena memang Tuhan menciptakan manusia untuk Diri-Nya sendiri.

Bukan salah kita mencari pleasure, tidak ada orang yang bangun tidur dan berpikir saya akan membuat diri saya hari ini susah. Semua orang secara otomatis akan mengerjakan segala sesuatu yang membuat dia comfortable. Kalau kita berbicara tentang pleasure, apa yang ada dalam pikiran kita?

Ada yang mengatakan mobil, pergi ke bar dan mabuk-mabukan, menikmati seks, atau makan-makanan yang nikmat. Namun problemnya adalah setelah mengalami kenikmatan itu apa yang terjadi? Setelah mabuk semalaman, keesokan paginya sakit kepala, dan terus mabuk-mabukan lagi sampai hancur hidupnya.

Alkitab mengatakan (lihat Mzm 16:11) di hadapan Tuhan ada suka cita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Nya ada nikmat, pleasure.

Datang kepada Tuhan, temukan suka cita yang sejati karena engkau diciptakan bagi-Ku.

Agustinus mengatakan I have created you for Myself, and our heart will be restless, sampai kita datang kepada Tuhan, dan menemukan Dia adalah yang sesungguh-sungguhnya, yang mulia, terbesar dan teragung.

Kesukaan yang sejati hanya dapat ditemukan di dalam Tuhan.

Barangsiapa yang menyelamatkan nyawanya, dia akan kehilangan nyawanya; barangsiapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, justru dia akan memperolehnya. Kita bukan ingin kehilangan nyawa, tetapi ultimately akan memperoleh hidup yang berkelimpahan, tetapi caranya adalah menyangkal diri, memikul salib, mengikut Kristus.

Apa artinya bagi kita untuk menyangkal diri, memikul salib, mengikut Kristus. David Platt pernah memberikan suatu sharing dalam bukunya “Radical”. Suatu kali dia pergi ke suatu negara di mana Gereja diintimidasi. Dia pergi ke satu negara ,kemungkinan besar di Cina, ke suatu pertemuan dengan dua puluh pemimpin Gereja bawah tanah. Mereka berkumpul di tempat yang rahasia, mereka satu per satu datang dengan tidak menyolok, supaya tidak ada orang yang tahu ada suatu pertemuan di situ. Ada orang yang penuh berkeringat basah, penuh dengan debu setelah berjalan berkilo-kilo meter. Mereka mulai berbicara satu sama lain, apa yang Tuhan sedang lakukan dalam Gereja mereka masing-masing.

Ada seseorang yang badannya besar dan kuat, yang berperan sebagai sekuriti, dia yang pertama kali berbicara. Sewaktu dia berbicara, dibalik badannya yang kuat mukanya yang keras ada hati yang begitu lembut. Dia langsung mengatakan beberapa orang di Gereja kami telah ditarik mengikuti ajaran bidat yang terkenal karena sering menculik orang-orang Kristen, membawa mereka ke tempat terisolasi dan menyiksa mereka. Ada beberapa yang lidahnya dipotong karena tidak mau mengikuti ajaran-ajaran bidat ini. Dia mengatakan saya sangat sedih dan sangat memerlukan anugerah Tuhan untuk memimpin Gereja ini, dalam menghadapi segala serangan yang kami hadapi. Mereka mulai berlinangan air mata mendengarkan cerita ini.

Seorang wanita setengah baya mengatakan beberapa hari yang lalu polisi mendatangi Gereja kami. Mereka diancam dan diperintahkan tidak boleh mengadakan bible study, kalau tidak mereka akan kehilangan segalanya, ditangkap, dipenjara, dlsb. Doakan kami, saya perlu mengerti bagaimana kami harus memimpin jemaat kami untuk mengikut Kristus, even if it costs them everything.

Semua berlinangan air mata, dan mereka mulai berdoa, berlutut, membuat lingkaran, muka menyentuh tanah. “Oh Tuhan terima kasih untuk kasih-Mu, yang begitu besar kepada kami”, “Oh Tuhan kami sangat memerlukan Engkau di dalam segala hal yang kami hadapi”, “Oh Yesus kami menyerahkan hidup kami kepada-Mu”, “Oh Yesus kami sungguh percaya kepada-Mu”.

Mereka berdoa mencurahkan isi hati mereka sambil menangis dengan sungguh-sungguh. David Platt sangat merasakan kesungguhan doa mereka. Sekitar satu jam mereka berdoa bersama-sama, dan setelah selesai David melihat ada genangan air mata berbentuk lingkaran, pool of tears.

Teladan ini membuat kita berpikir, merenungkan apa artinya mengikut Kristus? Apa artinya menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus dalam konteks kita? Apakah berarti kita memberikan 40% pendapatan kita untuk Gereja? Apakah berarti berjuang membangun tubuh Kristus, mempersiapkan dengan sungguh-sungguh setiap pelayanan yang ada? Mungkin ini benar, tetapi ini sangat tidak bisa dibandingkan dengan pengorbanan saudara-saudara kita seiman, setiap hari ada anak-anak Tuhan yang dibunuh, yang diintimidasi, dipenjarakan, disiksa karena imannya, karena Kristus.

Apa artinya menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus bagi kita? Mungkin kita harus berjuang melawan ketakutan dan kemalasan untuk memberitakan Injil. Saya rasa ini adalah bentuk dari menyangkal diri, memikul salib, mengikut Kristus. Berjuang melawan kemalasan untuk berdoa, kemalasan datang ke persekutuan doa. Kalau engkau berjuang, maka itu adalah bentuk dari  menyangkal diri. Berjuang melawan keinginan berdosa, melawan keinginan untuk melihat pornografi, berjuang dengan segala cara untuk tidak jatuh di situ. Berjuang untuk tidak menjadi marah, dan berdosa dengan mulut kita, dengan apa yang kita katakan. Bahkan sesederhana dengan bangun lebih pagi untuk tidak telat datang ke Gereja.

Kita harus memiliki motivasi untuk berjuang melakukan kehendak Tuhan.

Saya mengajak kita untuk menyangkal diri, memikul salib, mengikut Kristus, di dalam bentuk apa pun yang sangat sederhana, tetapi yang betul-betul mengubah hidup kita. Mengubah kerutinan hidup kita, kerutinan yang sering menghambat pertumbuhan iman kita. Kerutinan yang secara pelan-pelan membawa hidup kita jauh dari pada apa yang Tuhan kehendaki. Kerutinan sehari-hari yang kita kerjakan membentuk hidup kita. Kalau kita setiap minggu datang telat ke Gereja, itu akan menjadi kerutinan. Setiap kali menonton pornografi, menjadi suatu kebiasaan yang pelan-pelan menggerogoti hidup kita. Tiba-tiba rusaklah hidup kita.

Baiklah kita berjuang, bagaimana pun keadaan kita, Tuhan ingin kita bertumbuh, mengikut Dia, menyangkal diri, memikul salib. Apa pun keadaan kita, yang mungkin bisa berbeda-beda konteksnya. 

Saya mendorong setiap saudara untuk bergumul, jangan biarkan hidup saudara dibentuk oleh dunia ini, oleh lingkungan kita, oleh media. Lingkungan kita, pekerjaan kita, studi kita, di mana kita hidup, seluruhnya menarik kita, membentuk kita, save yourselves, it is you who is the most important. Namun kalau kita tidak menemukannya di dalam kehendak Tuhan, maka ultimately hal-hal itu akan menghancurkan hidup kita.

Kalau kita mengerti apa yang sedang terjadi kepada umat Tuhan yang teraniaya saat ini, kita akan malu sekali, menjadi orang Kristen yang mendapat kesulitan sedikit dan langsung mengeluh.

Tuhan tidak menuntut kita untuk melakukan hal yang di luar kemampuan kita, tetapi dengan keadaan kita sekarang, kita disadarkan untuk berubah.

Hidup kita mulai berubah dan membangun kebiasaan (habit) yang baru, kebiasaan yang berkenan kepada Tuhan, yang sedikit demi sedikit membangun hidup kita. Di dalam keluarga, di dalam interaksi dengan suami/istri, dalam pelayanan, harus ada sesuatu yang berubah secara mendasar ketika kita mau menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Kristus.

Ketika kita menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus, biarlah fokus kita terus kepada Kristus, dan bukan kepada diri kita atau kepada orang orang lain.

Inilah yang terjadi di dalam Yoh 21:20-22, ketika Petrus berpaling kepada murid yang dikasihi Kristus (yaitu Yohanes) dan berkata “"Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?” Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.”

Tuhan Yesus mau mengatakan jangan kamu ingin tahu urusan orang lain, bukan dengan tujuan membantu atau mendoakan, sekedar ingin tahu, untuk menyebarkan kepada orang-orang lain sebagai bahan gossip.

Fokuslah kepada-Ku, sangkal diri, pikul salib, ikutlah Aku, karena kalau engkau melihat orang lain, atau melihat dirimu sendiri, maka akan ada beberapa hal yang akan terjadi. Engkau akan sombong, kalau engkau membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa bahwa engkau lebih sungguh-sungguh melayani. Kalau saudara berjalan kaki, sambil melihat orang lain, maka saudara bisa menabrak tiang, karena tidak fokus kepada jalan kebenaran.

Bukannya kita tidak mengasihi orang lain, juga bukannya hidup orang lain tidak berdampak kepada kita, karena mereka juga saudara kita dalam Gereja Tuhan, tetapi Yesus mau mengatakan itu bukan urusanmu, karena setiap orang ultimately, pribadi lepas pribadi harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Jangan membandingkan diri dengan orang, tetapi engkau ikutlah Aku.

Kita sendiri, akan berdiri di hadapan Tuhan, bertanggung jawab atas apa yang Tuhan sudah berikan kepada kita, bertanggung jawab atas panggilan kita, bertanggung jawab atas tugas kita.

Sebagai contoh suami bertanggung jawab untuk mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi jemaat, inilah panggilan kepada suami. “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan menyerahkan diri-Nya baginya.” (Efesus 5:25). Tidak perduli apakah istrimu melawan engkau atau tidak, malas atau tidak, menghabiskan uang atau tidak, tunduk atau tidak.

Tidak perduli, itu adalah panggilanmu, tugasmu, yang Tuhan inginkan bagi kamu, mengasihi istrimu seperti Kristus mengasihi jemaat.

Respons istrimu itu adalah tanggung jawab dia di hadapan Tuhan. (Efesus 5:22) “Hai istri tunduklah kepada suamimu, seperti kepada Tuhan”, itu adalah panggilanmu. Tidak perduli apakah suamimu bertanggung jawab atau tidak, malas atau tidak, melakukan yang benar atau tidak. Engkau tidak boleh mengikut dia, kalau dia mengajak engkau untuk berdosa. Engkau tidak bisa berkata bagaimana saya bisa tunduk kepada suami saya karena dia malas, engkau harus berpikir. Apakah ketika dia lebih malas daripadamu, atau gaji dia lebih kecil daripadamu, engkau tidak perlu tunduk kepada suamimu? Tidak, tidak ada syarat itu, karena ini adalah panggilan Tuhan bagi istri: tunduklah kepada suamimu, seperti kepada Tuhan. Engkau akan dihakimi berdasarkan panggilan itu.

Masing-masing kita bertanggung jawab kepada Tuhan, jangan kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Karena kita tidak tahu seluruh cerita orang itu. Kita tidak mengetahui mengapa dia begitu, tidak mengetahui latar belakangnya. Biarlah kita tidak menghakimi dengan memberikan judgement yang salah kepada orang itu.

Suatu kali seorang ayah dengan tiga anaknya naik kereta. Ada penumpang yang baru masuk dan langsung duduk di dekat mereka. Ketiga anak itu masih kecil dan ribut sekali, bermain-main, dorong-dorongan dan membuat orang kesal. Seorang ibu melihat ayah mereka, dan ternyata ayahnya diam saja, tidak perduli kepada anak-anak itu. Ibu itu akhirnya tidak tahan dan menyuruh ayah itu untuk mendisiplin anak-anak itu. Ayah itu kaget ketika ditegur, dan mengatakan, “Maaf sekali, kami baru pulang dari penguburan ibu mereka.” Ibu itu tidak tahu cerita ayah dan anak-anaknya itu. Kalau kita mengerti kita pasti lebih empati, dan memahami, bahkan justru menolong kalau bisa.

Kita tidak perlu mencampuri orang lain, tidak perlu busy body, karena Tuhan memberikan tanggung jawab dan pergumulan yang berbeda-beda kepada setiap kita. Jadi saudara, jangan membanding-bandingkan karena saudara bisa merasa sombong, lebih hebat dari dia, tetapi bisa juga mulai tertekan, despair, karena saudara tidak mempunyai apa yang dia miliki, dlsb. Tuhan memberikan talenta yang berbeda, ada yang lima talenta, ada yang dua, ada yang satu talenta. Yang mempunyai lima talenta, dituntut lima talenta, yang mempunyai dua talenta dituntut dua talenta.

Dalam perumpamaan tentang talenta (lihat Mat 25:14-30), yang lima talenta menghasilkan lima, yang dua talenta menghasilkan dua, namun respons dari  tuan itu sama persis “hai hamba-Ku yang baik dan setia, kau telah setia di dalam tanggung jawab yang diberikan kepadamu, masuklah ke dalam kebahagiaan tuanmu.” Sama persis respons tuan itu terhadap keduanya, karena yang diberi lima talenta, dituntut lima talenta, yang diberi dua talenta, dituntut dua talenta.

Tetapi kalau yang diberi lima talenta hanya menghasilkan empat talenta, meskipun kita bisa mengatakan bahwa dia menghasilkan dua kali lipat daripada yang mendapat dua talenta, Tuhan akan marah kepada dia. Dia diberi lima tetapi hanya menghasilkan empat.

Tuhan memberikan talenta yang berbeda-beda, biarlah kita bisa saling menghargai. Ada pergumulan yang berbeda-beda yang Tuhan ijinkan. Percayalah kepada Tuhan, kepada Firman, yang mengatakan pencobaan yang kita alami itu tidak pernah akan melampaui kekuatan kita (lihat 1 Kor 10:13).

Ada orang yang mengatakan bahwa pencobaan yang dia alami itu melampaui kekuatan dia: tidak yang saya alami itu melampaui kekuatan saya. Namun dia menafsirkan kemampuan dia berdasarkan dirinya sendiri.

Alkitab berkata pencobaan yang engkau alami itu tidak akan melampaui kekuatanmu. Kalau engkau merasa itu melampaui kekuatanmu, berarti itu engkau yang salah, apa pun itu. Meskipun bukan berarti kita harus memarahi orang-orang seperti ini.

Di dalam menghadapi kesulitan dan pergumulan yang berbeda-beda, ada kekuatan, anugerah, pertolongan Tuhan bagi orang itu secara khusus di dalam keadaan yang dia alami.

Bagi kita yang tidak mengalami kesulitan seperti itu, justru kita jangan sombong, dan berkata “itu mungkin karena tidak kuat imannya”. Kalau kita mengalami kesulitan seperti orang itu, mungkin kita juga sudah ambruk.

Kita perlu menghargai adanya unity in diversity di dalam kita mengikut Tuhan. Unity di dalam Tuhan dan kebenaranNya, firman Tuhan berlaku bagi kita semua. Kita adalah satu tubuh dan semuanya harus bertumbuh ke arah Kristus yang adalah kepala Gereja. Tetapi bagaimana bertumbuh, bagaimana caranya, waktunya adalah unik bagi setiap kita. Baiklah kita menghargai perbedaan-perbedaan yang ada. Dengan cara yang berbeda-beda Tuhan membentuk kita, namun biarlah masing-masing kita bertumbuh, maju, menyangkal diri, memikul salib, mengikut Kristus. Inilah yang Tuhan inginkan. Biarlah kita boleh mentaati Tuhan, mengikut Kristus dengan menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Kristus, dengan cara aplikasi yang berbeda-beda bagi setiap kita.

Tetapi yang pasti adalah semua kita harus maju, dalam keadaan apa pun. Tuhan ingin berbicara dalam keadaan engkau sekarang, biarlah engkau maju selangkah, dua langkah, tiga langkah. Maju sehingga kita boleh bertumbuh, dan ketika kita bertemu dengan Tuhan nanti maka kita boleh mengatakan aku telah menyelesaikan pekerjaan yang baik yang Tuhan sediakan bagiku, panggilan yang Tuhan inginkan bagiku; sehingga ketika aku mati, kematianku mempermuliakan Tuhan. Inilah yang Kristus katakan kepada Petrus, dia akan mati dengan cara memuliakan Aku melalui kematiannya. Biarlah hidup kita seperti demikian. 

Salah satu kriteria bahwa kematian kita adalah kematian yang memuliakan Tuhan adalah ketika kita menerima kematian itu sebagai suatu keuntungan, mati adalah keuntungan, hidup adalah Kristus. “Mati adalah keuntungan” (lihat Filipi 1:21) adalah salah satu tes apakah hidup kita adalah hidup yang mempermuliakan Tuhan. Paulus mengatakan aku ingin memuliakan Allah baik melalui hidupku maupun melalui kematian ku. Salah satu tes untuk mengerti bagaimana hidupku dan matiku memuliakan Tuhan adalah aku menerima kematian itu sebagai keuntungan.

Hal ini adalah counter intuitive pikiran manusia. Bagaimana mati adalah keuntungan? Bukankah kematian itu adalah kerugian? Ini bukan hanya berbicara tentang orang yang sakit, yang ingin lepas dari penderitaan. Namun berbicara orang yang sudah sukses, berjuang, memiliki segala sesuatu, reputasi, kekayaan, kehormatan, sudah memiliki semuanya itu kemudian mati. Sedang berjuang dengan penuh semangat, tiba-tiba mati. Bisakah kita bisa mengatakan di dalam keadaan apa pun hidup kita sekarang ini, ketika Tuhan berkata engkau mati, selesai, kembali kepada-Ku, apakah kita bisa berkata untung aku mati?

Bagaimana kita bisa mengatakan mati itu adalah keuntungan, bukankah mati itu berarti meninggalkan semua yang kita miliki, seluruh harta, segala hasil perjuangan kita? Bukankah mati itu meninggalkan seluruh orang yang kita kasihi, anak-anak, suami/istri, orang tua kita, teman-teman kita, meninggalkan semua hal yang kita nikmati di dalam dunia ini? Paulus mengatakan, ya betul, aku meninggalkan itu semua, semua hal yang ada di dunia ini, namun aku mendapatkan Kristus. Itu adalah keuntungan yang besar. Artinya Kristus adalah segala-galanya, Dia adalah yang paling utama dalam hidupku, sukacitaku yang terbesar, harta yang paling berharga, kenikmatan yang tertinggi di dalam hidupku. Ketika aku mati meninggalkan semua hal di dunia ini, tetapi aku bertemu dengan Kristus, itu adalah keuntungan yang besar.

Kalau kita bisa berkata seperti demikian, mati adalah keuntungan, maka itulah yang Tuhan inginkan bagi hidup kita, menyangkal diri, memikul salib, mengikut Kristus. Terus mengikut Kristus, sehingga di mana pun, saat apa pun Tuhan memanggil kita, kita mati, kita bisa mengatakan mati adalah keuntungan. Karena mata kita terus memandang kepada Kristus, ingin memuliakan Dia. Hati kita hanya ingin meninggikan, mentaati, dan memuliakan nama-Nya. Sehingga mati adalah keuntungan.

Baiklah kita di akhir Injil Yohanes ini, kita bisa menjadi orang-orang yang sedemikian, yang hidup menyangkal diri, memikul salib dan terus mengikut Kristus, sampai kita mati, sampai kita bertemu dengan Tuhan muka dengan muka. Biarlah kita boleh setia sampai mati. 

Summarised by Matias Djunatan | Checked by Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya