Resources

Resources

Perpustakaan

Di tengah jaman yang anti intelektual, GRII Melbourne menyediakan perpustakaan untuk memperlengkapi iman, pengetahuan, dan kasih dengan membaca buku. Perpustakaan memiliki koleksi ~250 buku yang dapat dipinjam oleh semua jemaat. Perpustakaan menyediakan buku-buku Kristen yang berteologi Reformed, baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Perpustakaan dibuka setiap hari Minggu di Hall belakang. Silahkan menghubungi David Andika (david_andika17123@hotmail.com) apabila ada pertanyaan/masukan/usulan tentang buku. Kami menantikan kunjungan anda!

Akses koleksi: https://grii-melb-lib.librarika.com/

Book reviews:

 Iman, Pengharapan & Kasih dalam Krisis

Sebagai orang Kristen, hidup kita tidak pernah lepas dari krisis dan kesulitan. Bahkan Tuhan sendiri kerap memakai krisis dan kesulitan sebagai proses pendewasaan rohani kita. Buku ini menjelaskan bagaimana iman kita sebagai orang Kristen diuji dalam menanggapi krisis dan kesulitan. Buku ini juga mengajak setiap orang Kristen melalui imannya utk kembali kepada Allah, memiliki penglihatan rohani, berpegang tangan dengan Tuhan, istirahat di dalam Tuhan, beraktivitas di dalam Tuhan dan bersukacita karena Tuhan.

Mengapa IMAN? Karena iman adalah suatu pengarahan rohani untuk kembali kepada Tuhan sehingga kita dapat memiliki penglihatan di dalam rohani kita dan memegang tangan Tuhan yang tidak terlihat. Juga melalui iman, kita dapat mengerti bagaimana dapat bersandar kepada Tuhan dan beristirahat di dalam Tuhan.

Kita pun dapat bersukacita karena adanya pengharapan dari Tuhan di dalam melewati kesulitan hidup ini.Hanyamelalui imanlah, manusia dapat mengalahkan dunia yg penuh dosa ini. Hanya melalui pengharapanlah, manusia dapat mengarahkan diri kepada tujuan dan nilai kekekalan yang tidak tergoncangkan itu. Hanya melalui kasihlah, manusia dapat kembali untuk memulihkan dan merubah dunia yang sedang hancur. Kuasa Tuhan, Firman dan Roh-Nya mampu untuk memperbaharui dan memperdamaikan manusia dengan Allah khususnya di dalam zaman yang penuh dengan krisis ini. Kiranya buku ini bisa menjadi berkat bagi kita semua yg membaca.


The Compact Guide to World Religions

Ketika terlibat dalam diskusi agama, maka tidak jarang orang-orang mengatakan bahwa semua agama pada dasarnya sama, mengajarkan tentang moral, etika, cara hidup dan cara memperoleh keselamatan. Oleh karena itu, agama mana yang dianut tidaklah menjadi persoalan, yang penting memiliki kesungguhan hati untuk menjalankan agama yang dianut dengan benar.

Namun, benarkah pernyataan-pernyataan diatas? Ravi Zacharias berkata, “All religions are not the same. All religions do not point to God. All religions do not say that all religions are the same. At the heart of every religion is an uncompromising commitment to a particular way of defining who God is or is not and accordingly, of defining life’s purpose. Anyone who claims that all religions are the same betrays not only an ignorance of all religions but also a caricatured view of even the best-known ones. Every religion at its core is exclusive.”

Jika pernyataan Ravi Zacharias benar, ini berarti setiap agama hanyalah sama pada luarnya namun secara inti sangatlah berbeda. Dengan kata lain, setiap agama memiliki keunikannya tersendiri. Lalu bagaimana dengan iman Kekristenan? Apa keunikan-keunikan yang dimiliki oleh kekristenan, yang membuatnya berbeda dengan seluruh agama yang ada?Buku yang ditulis oleh berbagai pengarang ini terbuka bagi semua kalangan pembaca, tidaklah dieksklusifkan bagi orang Kristen saja.

Buku ini akan mengajak para pembaca untuk menulusuri berbagai keunikan kekristenan di tengah-tengah banyaknya agama/aliran kepercayaan yang ada: mulai dari Animisme, Buddhisme, Konfusianisme, Hinduisme sampai kepada Taoisme.Pembahasan setiap aliran kepercayaan selalu diawali dengan penjelasan mengenai latar belakang dan konsep-konsep yang dipegang oleh aliran tersebut.

Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan perbandingannya dengan iman kekristenan dan juga tips-tips maupun tantangan-tantangan yang sering dihadapi dalam pemberitaan Injil. Selain itu, dua bab terakhir dari buku ini dikhususkan bagi mereka yang masih ragu akan pertanyaan, “Apakah Yesus Kristus satu-satunya jalan menuju keselamatan?” dan juga “Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Alkitab adalah kebenaran satu-satunya yang bersumber dari Allah yang sejati?”.


 Iman, Rasio, dan Kebenaran

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki tiga unsur utama, yaitu unsur rasio, unsur  hukum, dan unsur moral. Di antara ketiga unsur tersebut, unsur rasio memiliki peranan yang sangat  penting, karena memungkinkan manusia untuk mengenal kebenaran. Namun, jika rasio penting, di  manakah peranannya dalam Agama? Terlebih lagi, apakah rasio bertentangan dengan iman? Di dalam  2 Tim 1:12, Paulus menegaskan, “Aku tahu siapa yang aku percaya”.  Ayat ini menunjukkan bahwa  pengetahuan dan iman tentu saja dapat berjalan sejajar. Mereka harus saling mengisi. Oleh karena itu,  iman harus dipertanggungjawabkan dengan rasio yang dapat dimengerti. Seseorang tidak dapat hanya berkata dia beriman kepada Tuhan saja, tetapi dia harus dapat memberikan alasan kepada sesamanya mengapa ia beriman kepada Tuhan.

Di dalam bukunya, Pdt. Stephen Tong mengajak para pembacanya untuk memikirkan kembali definisi iman yang sesungguhnya dan bagaimana kaitannya dengan rasio dan kebenaran. Pembahasan buku ini dimulai dengan pengenalan akan manusia dari berbagai teori yang ada; dari teori Evolusi sampai kepada Alkitab. Kemudian penulis membahas akan pentingnya peranan rasio yang sudah Allah berikan kepada manusia, dan kaitannya dengan iman.

Pembaca juga akan diberikan pemahaman yang benar akan sifat, wilayah, aspek-aspek dan keterbatasan dari rasio manusia di bab berikutnya. Di bab terakhir, penulis memfokuskan pembahasan akan pengembalian rasio manusia kepada kebenaran Allah. Buku ini akan sangat membantu para pembaca untuk mendapatkan jawaban akan pertanyaan-pertanyaan sulit seperti: Apakah orang beriman tidak berpikir? Apakah orang yang berpikir tidak dapat beragama? Apakah mungkin seorang yang beriman kuat memiliki pikiran yang bertanggung jawab di dalam menghadapi berbagai kesulitan, dengan berpikir sesuai dengan firman Tuhan?


 The Courage to be Protestant

Dalam buku ini, David Wells mensharingkan observasi yang tajam terhadap keadaan gereja di masa ini. Secara statistik, mungkin keKristenan mengalami perkembangan jumlah yang cukup pesat. Tapi apakah benar  gereja-gereja ini diisi oleh pengikut Kristus yang sungguh-sungguh lahir baru? Pengajaran seperti apakah yang mereka dapatkan? Bagaimana sebenarnya gereja menarik orang untuk masuk ke dalam?

Dengan gaya bahasa yang blak-blakan, David Wells tidak segan memberikan teguran keras terhadap “mega churches” zaman sekarang yang terlihat ramai dan sukses tapi sebenarnya sedang keropos secara spiritual. Nilai-nilai mutlak kekristenan tentang kebenaran, Tuhan, diri, supremasi Kristus dan gereja tidak lagi diteriakkan. Secara berlawanan, gereja mengakomodasi nilai-nilai marketing dan budaya modern dalam operasinya.

Lewat buku ini, Wells sekali lagi berusaha membangkitkan akan ‘classical evangelical values’ yang seharusnya menjadi pedoman gereja yang setia. Dia menguraikan kembali tema-tema tentang siapakah Tuhan, siapakah manusia, siapakah Kristus dan Alkitab sebagai kebenaran Allah dan apa relevansi hal-hal ini terhadap kelangsungan gereja. Sudahkah kita peka akan pergerakan gereja zaman sekarang? Perlukah kita berjuang memiliki keberanian untuk menjadi seorang Protestan yang sejati? Proposisi-proposisi yang sangat tajam dilontarkan Wells dalam buku ini, dengan harapan setiap dari kita tidak menutup sebelah mata atau malah ikut arus, tapi boleh kembali memperjuangkan kebenaran Tuhan dalam Alkitab.


 Naming the Elephant: Worldview as a concept

buku-namingtheelephantSeorang filsuf Yunani yang bernama Aristoteles pernah berkata, “All men by nature desire to know.” Manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan yang diberikan kapasitas untuk berpikir tentang keberadaan dirinya di tengah-tengah dunia. Namun tahukah anda bahwa semua pemikiran-pemikiran itu sendiri dibentuk oleh asumsi-asumsi dasar (presuposisi) yang kita sendiri enggan untuk mempertanyakannya? Hal inilah yang disebut oleh James Sire sebagai pandangan dunia (worldview).

Di dalam bukunya, James Sire mengajukan tujuh pertanyaan dasar yang melandasi cara berpikir seseorang akan segala sesuatu: Apakah realita yang sebenarnya? Apakah esensi dari dunia ini? Apakah manusia itu? Apakah yang terjadi pada saat seseorang mati? Mengapa kita bisa mengetahui sesuatu itu sendiri? Bagaimana kita bisa tahu mana yang baik dan yang jahat? Apakah arti dari sejarah manusia? Jawaban akan pertanyaan-pertanyaan di atas akan mencerminkan worldview yang dipegang oleh orang tersebut.

Buku ini membahas tentang bagaimana worldview manusia itu dibentuk, prinsip-prinsip dasar, asal usul, dan juga dimensi umum dan pribadi dari worldview itu sendiri. Selain itu, buku ini juga membahas berbagai pemikiran dari tokoh-tokoh besar akan definisi worldview beserta pendekatan mereka akan ketujuh pertanyaan di atas.


 Kematian yang Menghidupkan (The Death of Death in the Death of Christ)

buku-kematianyangmenghidupkanApakah Kristus mati untuk setiap manusia? Bagaimana saya bisa yakin Kristus mati untuk saya? Apakah yang sesungguhnya diajarkan oleh Firman Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi banyak orang Kristen, bahkan mungkin adalah pertanyaan yang digumulkan oleh banyak orang percaya. Tetapi bagaimanakah seharusnya kita menjawabnya?

Alkitab mengajarkan bahwa manusia pada dirinya sendiri adalah mati dalam dosa. Kalau bukan Tuhan yang memberi anugerah, maka tidak ada yang bisa percaya. Kebenaran Injil yang sejati inilah yang pada akhirnya bisa memberi penghiburan bagi orang percaya dan membawa mereka hidup berpusat kepada Allah. Kedaulatan dan kemurahan Allah menjadi nampak jelas, yang pada akhirnya membawa kemuliaan kepada-Nya.

Dalam buku The Death of Death in the Death of Christ ini John Owen membahas secara ringkas namun tajam alasan-alasan mengapa Kristus tidal matt untuk semua manusia.


 Mengetahui Kehendak Allah – Stephen Tong

Apakah kehendak Allah dapat diketahui? Bagaimana saya mengetahui kehendak Allah tentang studi saya, pekerjaan saya, pasangan hidup saya? Dengan cara bagaimana manusia mengenal kehendak Allah? Di zaman ini manusia ingin yang serba praktis dan pragmatis. Justru sikap seperti inilah yang membuat manusia semakin sulit untuk mengenal kehendak Allah. Tidak ada jalan yang pintas; yang ada adalah jalan yang seturut prinsip-prinsip yang sudah ditetapkan Alkitab.

Buku ini tidak langsung masuk ke dalam hal-hal praktis karena pengarang mau mempersiapkan zaman ini menjadi generasi yang bertanggung jawab, yang belajar baik-baik di hadapan Tuhan. Buku ini diawali dengan ulasan mengenai berbagai aspek penting seperti posisi vertikal dan horisontal manusia di hadapan Tuhan, hal penebusan dan kaum pilihan-Nya, dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan hal-hal praktis di dalam mengambil keputusan sehari-hari yang sesuai dengan kehendak Allah?

Pemaparan prinsip-prinsip Alkitab yang diajarkan Paulus, yang menyatakan apakah keputusan kita memuliakan Tuhan, berfaedah membangun orang lain, apakah kita dibatasi atau terbelenggu oleh keputusan itu, serta pengujian akan keputusan yang kita ambil juga dibahas dengan seksama. Semoga melalui buku ini kita semakin rindu untuk dapat lebih mengenal Dia dan hidup seturut dengan kehendak-Nya.


 Mere Christianity – C. S. Lewis

C.S. Lewis berpendapat pelayanan yang terbaik yang dapat dia lakukan untuk sesama yang belum percaya adalah menjelaskan dan membela kepercayaan yang telah diterima secara umum oleh hampir semua orang Kristen di segala zaman. Dia menulis buku ini bukan untuk menjabarkan ‘agamanya’, melainkan untuk menjabarkan ‘kekristenan asali’, yaitu hakikat yang sesungguhnya saat ini dan pada masa yang lalu, yang sudah ada jauh sebelum dia dilahirkan, tidak peduli dia sukai atau tidak.

Penjelasan tentang ‘kekristenan asali’ di dalam buku ini diumpamakan seperti sebuah aula dengan pintu-pintu yang menuju ke beberapa ruangan. Jika dia bisa membawa siapa pun masuk ke dalam aula itu, usahanya sudah berhasil. Setelah sampai di aula tersebut, dia berharap pembaca dapat bertanya pintu manakah yang benar; bukan pintu mana yang menyenangkan atau bagus. Secara gamblang, dia menjelaskan jangan kita bertanya: “Apakah saya menyukai ibadah seperti itu?”, melainkan “Apakah doktrin-doktrin in benar? Apakah keengganan saya untuk mengetuk pintu ini disebabkan oleh kesombongan saya, atau semata oleh selera saya, atau ketidaksukaan pribadi saya secara khusus terhadap penjaga pintunya?”

Ketika kita telah tiba di satu ruangan, dia berharap kita bisa bersikap baik kepada orang-orang yang telah memilih pintu yang berbeda dan kepada mereka yang masih berada di dalam aula. Jika mereka salah, mereka lebih lagi membutuhkan doa-doa kita. Kiranya buku ini dapat menolong kita untuk mengenal kebenaran-kebenaran iman Kristen secara lebih mendalam dan menjadikan kita orang-orang yang mau dipakai oleh Tuhan untuk membawa orang-orang di luar untuk juga mengenal kebenaran yang sejati.